Skip to content

10. Kata Kerja Bantu & Kata Kerja Bantu Potensial

Pelajaran 10: Mitos Japanese conjugation terbantahkan! Juga, rahasia bentuk kata kerja potensial terungkap

こんにちは。

Hari ini kita akan membedah kata kerja bantu (helper verbs) utama dan bentuk potensial. Saat saya bilang the main helper-verbs, yang saya maksud adalah apa yang sering disebut-sebut oleh buku tata bahasa Jepang gaya Barat sebagai conjugation (konjugasi). Saya sengaja menggunakan istilah ini agar kamu tidak bingung jika suatu saat melihat kata conjugation dipakai di sumber belajar lain.

Jadi, ketika mereka menyebut kata conjugation, hal inilah yang mereka maksud. Namun faktanya: TIDAK ADA yang namanya konjugasi di dalam bahasa Jepang. Yang sebenarnya kita lakukan hanyalah menempelkan kata-kata bantu ke ujung salah satu dari empat akar kata kerja (stems).

Ada banyak sekali jenis kata bantu, dan sebagian besar dari mereka sebenarnya murni cuma bertindak sebagai "tambahan kosakata"—asalkan kamu berhenti memperlakukan mereka sebagai hafalan konjugasi.

Lucunya, dalam beberapa kasus, penambahan kata bantu ini dilabeli sebagai conjugation oleh para ahli Barat, tetapi di kasus lain yang polanya sama malah tidak. Padahal, proses mekanisnya selalu sama 100% setiap saat.

Satu-satunya penyebab kenapa istilah konjugasi ini bisa muncul adalah karena beberapa pola penempelan ini kebetulan (dan hanya secara samar-samar) terlihat mirip dengan sistem konjugasi bahasa-bahasa di Eropa. Dari situlah bermula kebingungan massal karena mereka mencampuradukkan kata bantu dan kata sifat bantu Jepang dengan aturan konjugasi Eropa. Tapi karena kita tidak akan menggunakan pola pikir Barat tersebut, kamu tidak perlu khawatir sedikit pun soal itu.

Baiklah, mari kita mulai.

Kata Kerja Bantu Potensial

Kata kerja bantu utama pertama yang akan kita kupas adalah kata kerja Potensial (menyatakan bisa/mampu/potensi).

Kita sebenarnya sudah familier dengan konsep kata bantu, kan? Kita sudah membahas kata sifat bantu ない (nai) yang bertugas membentuk kalimat negatif, dan たい (tai) yang bertugas memicu rasa ingin/hasrat akan suatu tindakan.

Kita juga sudah menyinggung kata kerja bantu がる (garu) yang ditempelkan di belakang kata sifat. Nah, sekarang kita akan membedah kata kerja bantu Potensial, yang wajib ditempelkan pada E-stem (Akar kata baris "え").

Sebenarnya tidak banyak operasi yang kita lakukan dengan akar kata "え", apalagi jika dibandingkan dengan kesibukan akar kata "あ" dan "い". Tapi ada beberapa fungsi eksklusif, dan HANYA ADA SATU kata kerja bantu yang beroperasi di akar "え" ini. Jadi kamu tidak mungkin tertukar.

Kata bantu potensial ini memiliki dua wujud adaptasi: (ru) dan られる (rareru).

Beberapa orang mungkin merasa bingung ketika melihat wujud pembantu untuk kelompok Godan karena wujudnya cuma terdiri dari satu huruf mungil, yaitu る (ru). Tapi kamu sama sekali tidak perlu panik. Karena kata kerja bantu ini HANYA bisa menempel di ekor akar kata "え", dan tidak bisa berdiri sendiri sebagai kata mandiri, ia jadi sangat mudah dikenali.

Sedangkan られる adalah wujud panjang dari kata bantu potensial ini, yang khusus ditempelkan pada kelompok kata kerja Ichidan – kita sudah membahas berulang kali bahwa Ichidan selalu dapat jatah akhiran yang panjang.

Contoh kelompok Godan:

  • かう (membeli) digeser ke E-stem lalu ditambah -> かえる (bisa dibeli).
  • きく (mendengar) -> きける (bisa didengar).
  • はなす (berbicara) -> はなせる (bisa berbicara).
  • もつ (memegang) -> もてる (bisa dipegang), dan seterusnya.

INFO

Ingat mekanismenya: geser ujung kata kerja aslinya ke akar kata "え", lalu tempelkan bentuk potensial Godan "る". Lalu, perhatikan fakta teknis di bawah ini...

Mengenai implikasi perbedaan makna teknisnya, Dolly akan menjelaskannya secara khusus di PELAJARAN 54.
Namun sebagai spoiler, Dolly MENGAKUI bahwa dia melakukan kesalahan visual di video ini dengan melabeli "聞こえる" (kikoeru) sebagai other-move (Tindakan pada orang lain/Transitif). Yang benar adalah self-move (Tindakan pada diri sendiri/Intransitif) seperti yang ia isyaratkan di awal komentar (dan ini sejalan dengan sumber linguistik tepercaya seperti Imabi).

Lalu untuk たべる (makan), yang notabene adalah kata kerja Ichidan, kita melakukan prosedur standard-nya: cukup potong akhiran -る, dan tempelkan elemen apa pun yang kita butuhkan. Jadi たべる menjadi たべられる (bisa dimakan). Sangat simpel, bukan?

Hanya ada DUA pengecualian dalam pembentukan bentuk potensial ini, dan tentu saja tebakanmu benar: pelakunya adalah si kembar pembuat onar (kata kerja irregular), くる (kuru) dan する (suru).

  1. くる (datang) berubah wujud menjadi **こ**られる (korareru).
  2. Dan yang paling mengejutkan, する (melakukan) berevolusi jauh menjadi sebuah kata kerja baru: **できる** (dekiru).

Penting diingat: できる adalah bentuk potensial mutlak dari する.

Dan できる ini adalah kosakata yang sangat menarik, karena makna aslinya adalah come out (keluar/muncul). Jika kita membedah asal-usul huruf kanjinya, kata ini tersusun dari dua elemen dasar: (keluar) + (datang) = 出来る/できる (keluar datang / muncul / membuahkan hasil).

Karena sejarah inilah, jika kita mengatakan にほんごが**できる**, kita sama sekali TIDAK sedang menerjemahkan frasa bahasa Inggris I can do Japanese. Secara logika struktural, kita sedang mendeklarasikan: Japanese **is possible** / Japanese **does possible** (Bahasa Jepang itu memungkinkan/membuahkan hasil).

Dan jika kita menambahkan penunjuk konteks topik sehingga kalimatnya berbunyi わたしはにほんごが**できる**, kita secara akurat sedang mengatakan: To me, Japanese **is possible** (Bagi saya, [berbahasa] Jepang itu memungkinkan/bisa terjadi).

Ada satu ilustrasi menarik. Coba bayangkan ada seorang anak kecil yang sedang berusaha melipat kertas origami, lalu dia gagal dan berseru, "I'm trying very hard, but it won't come out right" (Aku udah berusaha keras, tapi hasilnya gak mau keluar dengan bener). Nah, persis di situasi seperti inilah konsep できる digunakan di otak orang Jepang! Ada berbagai macam cara unik orang Jepang menggunakan "できる" yang membuktikan bahwa, di budaya mereka, gagasan tentang "sesuatu yang memungkinkan" dan "sesuatu yang muncul/terwujud" itu terkait sangat erat. Tapi kita tidak akan masuk ke dalam gua kelinci itu sekarang—itu bahasan untuk level lanjutan.

Satu-satunya medan ranjau yang harus kamu waspadai dari bentuk Potensial ini adalah struktur penerapannya. Dan materi ini berkaitan erat 100% dengan topik keinginan (-tai) yang baru saja kita bedah minggu lalu[9]. Jadi, jika kamu sudah mencerna pelajaran sebelumnya, materi ini harusnya terasa semudah menjentikkan jari.

Mari kita bedah kalimat tipikal ini: ほんがよめる.

Sekarang, buka buku teks bahasa Jepang kurikulum standar mana pun. Mereka 100% akan menerjemahkan kalimat itu menjadi I can read the book (Saya bisa membaca buku itu).

PADAHAL ITU BUKAN ARTINYA. Jika kamu masih mengikuti logika kursus kita, kamu pasti langsung menyadari kecacatan terjemahan itu. Coba fokus: di mana partikel (ga) bertengger? Apa yang ditandainya? Ia menempel pada ほん (Buku)! Jadi, secara tata bahasa, siapa yang menjadi penggerak (Subjek) dari kalimat ini? Jelas BUKU.

Kita sedang menceritakan sebuah atribut tentang si buku. Buku adalah Gerbong utamanya, dan よめる adalah si Engine. Kita secara literal sedang menceritakan: buku itu dapat dibaca, buku itu memiliki atribut 'bisa dibaca' (readable).


Lalu, jika kita menambahkan わたしは di depannya, kita murni cuma menambahkan konteks bahwa buku itu bisa dibaca oleh/bagi saya. Yang secara harfiah sedang kita ucapkan adalah, In relation to me, the book is readable (Adapun bagi saya, buku itu dapat dipahami/bisa dibaca).

Sekali lagi: kalimat ini TIDAK dan SECARA STRUKTUR TIDAK BISA berarti, I can read the book (SAYA bisa membaca BUKU). Kenapa? Karena jika kamu murni ingin bilang "SAYA bisa membaca BUKU", maka buku adalah objek penderita dan ia wajib ditandai dengan (o). Dan SAYA (sebagai subjek pelaku) wajib memegang kendali .

Apakah kita boleh menyusun kalimat seperti itu? Tentu, secara tata bahasa itu bisa dilakukan, TAPI itu bukan struktur yang biasanya diucapkan oleh penutur asli.

Jika kita bersikeras merakit kalimat untuk menonjolkan EGO manusia layaknya cara bicara orang Barat, maka kita harus menukar partikelnya. Jika kamu ngotot ingin secara literal menerjemahkan **I** can read the book, bentuk Jepangnya adalah: **わたしが**ほんをよめる.


Banyak ahli dan penutur asli menganggap kalimat (Watashi ga hon o yomeru) tersebut sebagai "bahasa Jepang yang jelek".

INFO

Bisa dibilang ini bukan cara orang Jepang berpikir secara natural. Ini lebih condong ke "Bahasa Jepang yang di-Inggris-kan" (Bahasa Jepang yang terlalu English-ised). Ini terjadi karena kalimat itu terlalu menonjolkan 'EGO' si pelaku untuk tampil sebagai subjek agung, yang notabene bertentangan dengan filosofi kerendahan hati budaya Jepang.

Bukan urusan kita untuk berdebat apakah kalimat egois itu "jelek" atau tidak. Inti mutlaknya adalah: 99% dalam kehidupan nyata kamu akan selalu menemui format **ほんがよめる** (Hon ga yomeru). Dan format standar (わたしは) ほんがよめる ini TIDAK BISA diterjemahkan secara harfiah menjadi I can read the book. Artinya adalah The book is readable [to me].

INFO

Sisipan "わたしは" bisa dipakai kalau kamu memang ingin menonjolkan bahwa atribut "buku itu bisa dibaca" itu berlakunya HANYA BAGI SAYA (sebagai topik). Tapi di obrolan normal, kata ini biasanya diamputasi dan tidak disebutkan.

Sangat sederhana, kan? Selama kita mengingat dan menghormati logika ini, kita tidak akan pernah membuat partikel di bahasa Jepang menjadi tidak masuk akal.

Bukankah struktur ini identik dengan problematika -たい (kata sifat keinginan) yang kita bahas minggu lalu? Selama kita terus mengunci posisi dan tugas hakiki di dalam kepala kita, semua misteri tata bahasa akan terselesaikan dengan sendirinya.

Sama persis logikanya dengan bentuk -たい. Jika kita mengatakan, (わたしは) ケーキがたべたい (Kue memicu hasrat untuk dimakan),

maka KUE-lah pemegang subjek yang memicu rasa ingin tersebut (sedangkan SAYA murni cuma jadi penonton yang dituju oleh efek tersebut).

TETAPI, jika kita hanya mengatakan kalimat buntung (わたしは) (zeroが) たべたい, maka makna strukturalnya berubah menjadi: (In relation to me) (I) want to eat (Adapun bagi saya, [saya] sedang ingin makan).

Karena ketika tidak ada objek makanan spesifik yang menjadi sumber pemicu keinginan, maka secara otomatis akulah subjek yang menciptakan rasa ingin itu.

INFO

Dalam kasus tanpa objek, SAYAlah yang merangkap peran sebagai Subjek yang merasa ingin makan (karena kelaparan). Di saat yang sama, SAYA juga berstatus sebagai Topik (は).

Perhatikan bahwa karena tidak ada makanan spesifik yang ditunjuk, maka "kekosongan" itu secara default akan diisi oleh sosok me (saya). Sosok zero-ga (dan zero-wa) mutlak sangat bergantung pada konteks situasional kalimat saat itu.

Hukum alam yang sama persis berlaku untuk bentuk Potensial. Jadi kita mengatakan, (わたしは) ほんがよめる(to me) the book is read-able (Bagi saya, buku itu bisa dibaca).

Tetapi jika kamu murni hanya ingin berteriak I can read! (SAYA BISA MEMBACA!) – bukan berarti kamu bisa membaca koran atau bisa membaca buku harian rahasia milik Sakura, kamu cuma ingin bilang bahwa kamu mampu melakukan aktivitas membaca – maka kamu wajib menyingkirkan semua objek dan memakai struktur: わたしがよめる (Watashi ga yomeru), atau cukup berteriak よめる (sebagai wujud singkatan dari zero-ga yomeru).

Dalam skenario kalimat tanpa objek ini, kitalah yang secara murni mengambil alih posisi subjek kalimat. Saya yakin pasti ada yang mulai garuk-garuk kepala karena bingung dengan lompatan logika ini, tapi jika kamu benar-benar mengunyah logika Pelajaran 9 secara saksama, ini harusnya terasa sangat bening.

Sebagai penutup, selalu ingat hukum sakral ini: bahasa Jepang akan selalu saling mengunci seperti permainan balok Lego.

Jadi, wujud kata bantu Potensial (meskipun ia cuma sebongkah huruf kana kecil ), nasibnya hanyalah beroperasi seperti kata kerja Ichidan pada umumnya. Sama persis statusnya seperti puluhan kata kerja bantu lain, dan kita bisa memperlakukannya persis seperti kata kerja normal.

INFO

Penting: Kata bantu potensial "る" itu berwujud Ichidan. Jadi, setiap kali kamu ingin menambahkan konjugasi/waktu ke dalam bentuk Potensial, kamu cukup memperlakukan kata potensial baru itu SEBAGAI Ichidan. (Dolly membalas ini di komentar videonya)

"Bentuk potensial dari kata kerja Godan SECARA OTOMATIS BERUBAH menjadi bentuk Ichidan, karena kata bantu 'る' itu sendiri beraliran Ichidan... Jadi lupakan soal label asalnya Godan. Begitu kita menempelkan kata bantu Ichidan ke ekor Godan, kata gabungan baru tersebut sudah mutlak menjadi entitas Ichidan. Apa pun konjugasi yang akan kamu berikan selanjutnya, wajib mematuhi pola Ichidan... Jadi pertanyaannya bukan 'kok kata Godan berubah jadi Ichidan?'. Yang terjadi adalah: kata Godan itu menggendong anak buah yang berwujud Ichidan."

Kita akan selalu bisa mengidentifikasi kata bantu ini dengan gampang, karena dialah satu-satunya makhluk yang berhak menempel pada akar kata "え". Dan kita bisa menguliti dan memodifikasinya dengan cara yang 100% sama dengan cara kita memodifikasi kata kerja Ichidan biasa.

Mari kita buktikan (base word = aruku / berjalan):

  • Potensial Positif: あるける (bisa berjalan).
  • Potensial Negatif (ない): あるけない (tidak bisa berjalan).
  • Potensial Lampau (): あるけた (dulu bisa berjalan).
  • Potensial Lampau Negatif (なかった): あるけなかった (dulu tidak bisa berjalan).

Dan menakjubkannya, pola mesin ini tetap berjalan konsisten meskipun dipasang pada kata kerja irregular (tidak beraturan). Mari kita buktikan pada "できる" (bisa dilakukan):

  • できない (tidak bisa/tidak mungkin).
  • できた (dulu bisa/sempat berhasil).
  • できなかった (dulu tidak bisa/gagal).

Dan sistem yang dibilang super ribet oleh buku teks itu pun selesai kita bongkar. Sesederhana itu!

INFO

Sebenarnya saya (editor catatan) sempat bingung dengan satu hal. Saya mencari 出来る / できる di kamus Jisho.org, dan kamus itu secara ganjil menampilkan wujud potensial dari kata tersebut sebagai できられる (dekirareru). Ini sangat aneh secara logika karena wujud できる itu sendiri sudah memuat makna Potensial (bisa/mampu). Saya iseng menelusuri beberapa forum bahasa Jepang, dan sepertinya bahkan native speaker (orang Jepang asli) pun menganggap ejaan できられる itu aneh dan janggal. Apakah mungkin itu sisa-sisa wujud tata bahasa kuno atau Keigo (bahasa sangat sopan)? Tolong koreksi jika saya salah menyimpulkan...

Sama kasusnya dengan kata 分かる (wakaru / mengerti). Kata ini TIDAK memiliki bentuk potensial (seperti wakareru), karena kata dasar "mengerti" secara otomatis di dalam dirinya sendiri sudah menyiratkan wujud potensial (yaitu "bisa/mampu memahami"). Dolly menjelaskannya lebih lanjut di tautan StackExchange ini, bahwa jika kamu memaksakan wujud 分かれる (wakareru), itu malah berubah menjadi kosakata yang artinya berbeda total (artinya terbelah/terpisah).


INFO

Berikut saya tambahkan sedikit latihan simulasi perubahan bentuk untuk kata kerja Ichidan biasa (たべる / makan), yang mendapat wujud potensial panjang られる:

  • Potensial Positif: たべられる (bisa makan).
  • Potensial Negatif: たべられない (tidak bisa makan).
  • Potensial Lampau: たべられた (dulu bisa makan).
  • Potensial Lampau Negatif: たべられなかった (dulu tidak bisa makan).

Created by Kellen | Indonesian translation by DeepL