Skip to content

7.5. Konjugasi

Pelajaran 8: Konjugasi bahasa Jepang jadi mudah! Kunci super sederhana untuk semua konjugasi.

Hari ini kita akan membahas tentang konjugasi bahasa Jepang.

Kamu mungkin bertanya, "Konjugasi yang mana?" Jawabannya: Semuanya. Kecuali bentuk "た" (ta) dan "て" (te), yang akan kita bahas di pelajaran terpisah nanti[81].

Kenapa kita membahas semuanya sekaligus? Karena kita bisa. Karena seluruh sistem konjugasi bahasa Jepang pada dasarnya bekerja dengan satu cara yang persis sama. Sangat sederhana, sangat logis, sangat konsisten, dan sangat gampang dipahami.

Namun, kalau kita melihat ke buku-buku teks, kita seolah-olah dicekoki ilusi bahwa ada puluhan aturan acak dan bentuk berbeda yang harus dihafal mati untuk setiap konjugasi. Mengapa bisa begitu? Mengapa buku teks membuatnya tampak begitu rumit padahal aslinya sangat sederhana?

Ada dua alasan utama. Alasan pertama adalah karena mereka memaksakan konsep tata bahasa Eropa (konjugasi) ke dalam bahasa Jepang. Padahal sebenarnya, apa yang kita lakukan ini sama sekali bukanlah konjugasi dalam artian Eropa.

INFO

Jika kamu suka membaca hal teknis, ada diskusi menarik tentang perdebatan linguistik ini di kolom komentar Pelajaran 13. Pada akhirnya terserah kamu mau menyebutnya apa; menyebutnya konjugasi juga tidak apa-apa karena istilah itu sudah telanjur umum digunakan, asalkan kamu paham bagaimana konsep aslinya bekerja.

::: detail Ini cuma sekadar catatan pribadi saya soal terminologi yang agak berbelit-belit... (klik panah untuk memperluas) Secara ilmu linguistik murni, bisa dibilang memang ada "sesuatu" yang mirip konjugasi dalam bahasa Jepang. Tapi mekanismenya sangat berbeda dengan bahasa-bahasa Eropa. Inilah alasan mengapa Dolly sangat menghindari penggunaan istilah tersebut—agar kita tidak terjebak mengasosiasikannya dengan aturan Barat dan malah jadi kebingungan.

Sekali lagi, jangan anggap teori ini sebagai kebenaran mutlak. Dolly melakukan ini untuk menjauhkan kita dari asosiasi usang kata conjugation. Sama halnya dengan konsep "Kata Benda Adjektival" (Na-adjectives) yang sejatinya adalah kata benda, TETAPI bukan kata benda mandiri seutuhnya. Intinya: ada banyak sudut pandang dalam linguistik, dan tidak semuanya hitam-putih. Ini hanyalah salah satu "model" pendekatan, dan karena kita tidak bisa menjelaskan ilmu tata bahasa yang rumit sekaligus, wajar jika ada beberapa hal yang disederhanakan.


Namun, perlu diingat juga bahwa Dolly kadang-kadang bisa bersikap terlalu sinis terhadap buku teks. (Meskipun banyak kritiknya yang valid, buku teks tetap punya tujuan pengajaran yang berbeda. Selama sebuah sumber bisa membantumu mulai melakukan imersi/terjun langsung ke dalam bahasa Jepang, sumber itu sudah tergolong bagus). Terkadang Dolly memosisikan teorinya sebagai satu-satunya cara terbaik atau memakai judul clickbait di videonya. Saya pribadi tidak selalu setuju dengan pola pikir eksklusif seperti itu, jadi ambillah yang baik-baik saja. Karena Dolly menggunakan bahasa yang sangat awam agar materinya mudah dicerna, ada beberapa detail teknis yang sengaja ia "pangkas". Jadi menurut diskusi beberapa ahli bahasa di internet (seperti di komunitas MoeWay), penjelasan Dolly kadang sedikit kurang akurat secara ilmu linguistik tingkat lanjut.

Jika kamu penasaran dengan perdebatan tersebut, silakan intip diskusi Discord MoeWay ini. Kesimpulannya: jangan jadikan Dolly sebagai satu-satunya kitab suci kebenaran mutlak. Jadikanlah ia sebagai "alat bantu" yang sangat ampuh untuk menguasai fondasi dasar bahasa Jepang, yang tugasnya mendorongmu untuk segera melakukan imersi (= kunci paling penting dalam belajar bahasa).


Penjelasan di atas hanyalah opini dan pemahaman pribadi saya. Saya juga bukan ahli bahasa/linguistik, jadi ada kemungkinan saya juga salah atau penjelasan saya kurang lengkap. (Itulah kenapa saya sangat terbuka kalau ada yang mau mengoreksi tulisan saya).

Tapi pada akhirnya, meskipun Dolly memang terbukti menyederhanakan beberapa hal, itu SAMA SEKALI BUKAN MASALAH. Peran Dolly di sini murni untuk mengenalkan kerangka dasar paling fundamental. Kerangka itu nantinya akan secara otomatis "diperbaiki dan disempurnakan" oleh otakmu sendiri saat kamu mulai rajin melakukan imersi (membaca/menonton konten asli). Bahasa itu tidak bisa "dipelajari" 100% dari buku; bahasa hanya bisa "diperoleh" melalui konsumsi dan praktik langsung di lapangan.

Dalam linguistik, segala sesuatu itu sangatlah kompleks. Jadi kalau kamu mau menjelaskannya ke pemula, kamu wajib mengorbankan sedikit akurasi demi penyederhanaan logika. Pahami bahwa aturan akan terlihat semakin bercabang seiring kamu menyelam lebih dalam. Jadi anggaplah model Cure Dolly ini sebagai batu loncatan yang luar biasa efektif, bukan sebagai makalah doktoral linguistik. :::

Pengantar "Konjugasi"

INFO

Inilah kutipan langsung yang ditulis Dolly dalam bukunya Unlocking Japanese mengenai Konjugasi. Camkan baik-baik:

Yang sebenarnya kita lakukan sepanjang waktu hanyalah menambahkan kata kerja bantu sederhana—atau kata sifat bantu, atau kata benda bantu—ke dalam sebuah "akar kata tempel" (sticky stem).

Begitu kita memahami cara kerjanya, seluruh sistem ini berubah menjadi sangat, sangat sederhana dan masuk akal.

Alasan kedua kenapa buku teks bikin pusing adalah: mereka menghabiskan terlalu banyak waktu mencoba menjelaskan perubahan huruf menggunakan sistem alfabet Romawi (Romaji). Pemaksaan inilah yang melahirkan banyak aturan acak dan kebingungan.

Tetapi begitu kita melihatnya menggunakan habitat aslinya—yaitu sistem huruf Jepang (Kana)—semuanya langsung terlihat sangat logis.

Saya berani jamin sistem ini 100% konsisten, logis, dan gampang. (Yah, berhubung cuma ada satu pengecualian kecil dan dua kata kerja tidak beraturan, mari kita ralat sedikit: sistem ini 99,9% logis, konsisten, dan masuk akal).

Mari kita langsung buktikan. Saya akan menunjukkan tabel sakti yang akan menyingkap bagaimana seluruh sistem ini bekerja.

チャートをください! (Tolong tampilkan bagannya!)

Jadi, inilah bagan huruf Kana yang sudah familier buatmu, mencakup semua bunyi dasar dalam bahasa Jepang.

Saya sengaja memutarnya ke samping. Alasannya akan segera kamu pahami. Semua kata kerja bentuk kamus dalam bahasa Jepang selalu berakhiran dengan salah satu huruf di baris tengah—yang sekarang terlihat seperti kolom karena posisinya sudah saya putar. Itu adalah baris "う" (u) – う, く, す, つ, ぬ, dll.

Namun, berhubung tidak ada satu pun kata kerja di Jepang yang berakhiran huruf ゆ (yu), kita bisa mencoret dua kolom tersebut untuk menyederhanakan tabelnya.

Lalu, sejatinya hanya ada satu kata kerja di seluruh dunia bahasa Jepang yang berakhiran huruf ぬ (nu)—yaitu しぬ (mati)—jadi secara teknis kita bisa mencoretnya juga biar tabelnya makin simpel. Tapi demi kelengkapan materi, saya akan membiarkannya tetap ada.

Intinya: setiap kata kerja dasar bahasa Jepang PASTI berakhir dengan salah satu huruf Kana di dalam kotak merah tersebut. Mari kita ambil contoh kosakata untuk masing-masing akhiran:

  • かう (membeli)
  • きく (mendengar)
  • はなす (berbicara)
  • もつ (memegang)
  • しぬ (mati)
  • とぶ (terbang)
  • のむ (minum)
  • とる (mengambil)

Sekarang, seperti yang kamu lihat, masih ada empat baris huruf lain di sekitar kotak merah tersebut. Dan kenyataannya, keempat baris itu semuanya aktif digunakan.

Setiap kali kita menggeser huruf akhirannya masuk ke salah satu dari keempat baris tersebut, kata itu berhenti menjadi kata kerja utuh, dan berubah wujud menjadi apa yang saya sebut 'sticky stem' (akar kata tempel). Yaitu sebuah fondasi dasar yang siap ditempeli elemen-elemen baru di belakangnya.

Akar Kata baris "い" (I-stem)

Pertama, mari kita lihat I-stem (Akar kata baris 'い').

INFO

Kalau kamu bingung kenapa kolom 'そう' masih dibiarkan ada tapi tidak dibahas di sini, tenang saja. Fungsi 'そう' akan kita kupas tuntas nanti di Pelajaran 24.

Untuk membuat akar kata tempel baris い, kita cukup menarik huruf dari baris "う" turun ke padanannya di baris "い". Jadi, かう menjadi かい, きく menjadi きき, はなす menjadi はなし, dan seterusnya.

Lalu, apa yang bisa kita tempelkan pada I-stem ini?

Kata Kerja Bantu "ます" (Masu)

Hal paling lazim yang pasti sering kamu temui adalah: kita menempelkan kata kerja bantu ます ke akar kata tempel baris い.

Ingat, "ます" bukanlah sebuah konjugasi ajaib. Itu adalah sebuah kata kerja utuh. Tepatnya, kata kerja bantu yang tugasnya menempel pada akar kata "い". Menempelkan ます tidak mengubah makna asli kata kerjanya, ia hanya membuat nadanya menjadi formal/sopan.

Jadi, "かう" adalah wujud biasa (informal) yang berarti "membeli"; sedangkan "かいます" adalah wujud sopannya. "きく" adalah wujud informal yang berarti "mendengar"; sedangkan "ききます" adalah wujud sopannya.

Kata Sifat Bantu "たい" (Tai)

Apa lagi yang bisa kita tempelkan pada akar kata "い"?

Kita bisa menempelkan kata sifat bantu たい. たい adalah kata sifat bantu yang artinya "ingin" (want to).

Jadi, かいたい berarti ingin membeli; ききたい berarti ingin mendengar; はなしたい berarti ingin berbicara, dan seterusnya.

INFO

Meskipun dalam terjemahan bahasa Inggris atau Indonesia kata "ingin" ini sering dianggap sebagai kata kerja (verb), dalam sistem bahasa Jepang, たい mutlak beroperasi sebagai kata sifat.

Mengubah Kata Kerja Menjadi Kata Benda

Kita juga bisa memanfaatkan akar kata "い" ini lalu menggabungkannya dengan kata benda lain, untuk menciptakan sebuah kata benda hibrida yang baru.

Contohnya:

  • かいもの (dari kata kau + mono / benda). "Benda beli" -> maknanya berubah menjadi berbelanja.
  • のみもの (dari kata nomu + mono). "Benda minum" -> maknanya menjadi minuman.
  • はなしかた (かた berarti cara/wujud). -> maknanya menjadi cara berbicara atau gaya bicara.

Nah, sampai di sini kita sudah tahu cara mengolah kata kerja kelompok Godan. Lalu bagaimana dengan kelompok Ichidan (yang suka disebut buku teks sebagai る-verbs)? Ini sangat amat mudah. Yang perlu kamu lakukan untuk golongan ini hanyalah: potong dan buang akhiran "る"-nya, dan kamu akan secara otomatis mendapatkan semua jenis akar kata yang kamu butuhkan dalam satu wujud.

Jadi, "たべる" dipotong menjadi "たべ".

  • Tempel masu: "たべます" (bentuk sopannya).
  • Tempel tai: "たべたい" (ingin makan).
  • Tempel mono: "たべもの" (makanan).

INFO

Sebagai catatan, ada juga kosakata 買い (kai), yang bisa berdiri sendiri sebagai kata benda yang berarti 'pembelian' atau 'produk'. Jadi maknanya sangat mirip dengan 買い物 (kaimono). Saya kurang tahu sejarah linguistik pastinya, tapi penting buatmu untuk sadar bahwa ada beberapa kasus seperti ini. Ini membuktikan bahwa tidak semua kata yang dimodifikasi ke baris "い" otomatis cuma berfungsi sebagai kata sifat bantu. Mungkin saja di zaman dulu "い" juga merupakan turunan dari suatu kata benda Kanji. Intinya, bahasa itu terus berevolusi.

Akar Kata baris "あ" (A-stem)

Sekarang kita bergeser ke A-stem (Akar kata baris 'あ'). Nah, di sinilah satu-satunya letak "kecacatan" atau pengecualian dalam sistem ini.

Kamu mungkin mulai mengeluh, "Tuh kan, ujung-ujungnya banyak pengecualian!"

Tunggu dulu. Ini benar-benar satu-satunya pengecualian di SELURUH sistem yang kita pelajari hari ini. Dan pengecualiannya pun sangat natural serta gampang dihafal.

Satu-satunya aturan yang melenceng adalah: Kata kerja yang berakhiran huruf "う", akarnya TIDAK bergeser naik menjadi かあ (kaa), melainkan bergeser jauh menjadi かわ (kawa). Alasannya murni karena kawa jauh lebih enak diucapkan dan didengar dalam tempo percakapan cepat ketimbang kaa.

Jadi, かう tidak berubah menjadi かあない, melainkan menjadi かわない.

INFO

Di kolom komentar YouTube, ada seorang user bernama pycage yang memberikan penjelasan sejarah linguistik tentang kenapa pengecualian 'wa' ini bisa terjadi, dan membuktikan bahwa ini aslinya bukanlah pengecualian. Kalau kamu tipe nerd bahasa, silakan baca komentarnya (o^▽^o). Tapi peringatan, bahasannya lumayan berat!

Lalu, buat apa kita memakai akar kata tempel "あ" ini?

Kata Sifat Bantu "ない" (Nai)

Saya sudah membocorkan hal ini di pelajaran sebelumnya[7]—fungsi paling umum dari A-stem adalah sebagai tempat menempelnya kata sifat bantu ない (bentuk negatif).

Akhiran ini wajib menempel pada akar kata baris "あ", jadi:

  • "かう" (membeli) menjadi "かわない" (tidak membeli);
  • "きく" (mendengar) menjadi "きかない" (tidak mendengar);
  • "はなす" (berbicara) menjadi "はなさない" (tidak berbicara), dan seterusnya. Sangat simpel.

Bentuk Kausatif (Causative Form)

Kita juga menggunakan akar kata "あ" untuk merakit bentuk Kausatif dan bentuk Pasif dari kata kerja. Dua bentuk (conjugation) inilah yang biasanya sering bikin murid pemula stres dan rontok rambutnya di sekolah.

Saya sudah menyiapkan video khusus (di pelajaran selanjutnya) yang akan membuktikan kepadamu betapa sederhananya kedua bentuk ini, bagaimana logika kerjanya, dan betapa gampangnya dipakai kalau kamu paham asal-usulnya.

Untuk hari ini, kita murni hanya mengintip wujud strukturnya saja.

Bentuk kausatif (Causative) adalah bentuk yang bermakna membiarkan seseorang melakukan sesuatu, atau menyuruh/membuat seseorang melakukan sesuatu. Bentuk ini dirakit dengan cara menempelkan kata kerja bantu せる (seru) atau させる (saseru) ke akar kata baris "あ".

Tunggu dulu, kenapa saya bilang せる / させる? Apa bedanya?

Artinya murni sama, cuma ini adalah dua wujud adaptasi dari kata kerja bantu tersebut.

  • せる dipakai untuk ditempelkan pada semua akar kata baris "あ" yang baru kita pelajari (yaitu kelompok Godan).
  • させる dipakai khusus untuk ditempelkan pada kelompok kata kerja Ichidan (si ru-verbs).

Aturan emas yang akan selalu kamu temui: Jika ada dua versi kata kerja bantu seperti ini, versi yang lebih panjang (saseru) akan selalu menjadi jatah kelompok Ichidan. Kenapa? Karena akar kata Ichidan itu sifatnya pendek-pendek (akibat huruf ru-nya dibuang habis).


Contoh penerapannya:

  • かう menjadi かわせる (mengizinkan membeli / menyuruh membeli).
  • はなす menjadi はなさせる (mengizinkan berbicara / menyuruh berbicara).

INFO

Penting: はなす adalah kelompok Godan. Jadi ia bergeser ke baris 'あ' menjadi はなさ, lalu ditambah せる. Wujud akhirnya memang jadi はなさせる, seolah-olah terlihat mirip dengan rumus saseru milik Ichidan. Dolly akan membahas trik ini lebih dalam di pelajaran selanjutnya.

  • のむ menjadi のませる (mengizinkan minum / membuat minum).
  • たべる menjadi たべさせる (mengizinkan makan / menyuruh makan).

INFO

たべる adalah kelompok Ichidan. Jadi sesuai rumusnya, potong 'る', lalu tempelkan bentuk panjangnya: させる.

Bentuk Reseptif / Pasif

Bentuk berikutnya adalah yang buku teks sebut sebagai bentuk "Pasif"—yang sejatinya tidak 100% pasif. Saya lebih suka menyebutnya bentuk Reseptif (menerima tindakan), dan kita juga akan punya satu video khusus untuk membongkar betapa briliannya struktur ini.

Bentuk reseptif/pasif ini dirakit dengan cara menempelkan kata kerja bantu れる (reru) atau られる (rareru) ke dalam akar kata baris "あ".

  • "かう" menjadi "かわれる" (dibeli / kena beli / get bought). Menerjemahkannya dengan 'get bought' jauh lebih akurat dengan feel aslinya di bahasa Jepang, kamu akan memahaminya di video khusus nanti[13].
  • "きく" menjadi "きかれる" (didengar).
  • "のむ" menjadi "のまれる" (diminum). Bukan berarti saya mabuk (drunk), tapi ini bermaksud menceritakan nasib secangkir kopi yang telah diminum.
  • "たべる" menjadi "たべられる" (dimakan).

Jadi, bisa kamu lihat sendiri kan faktanya? Selain satu pengecualian huruf wa tadi, sama sekali tidak ada hafalan ajaib atau puluhan aturan konjugasi membingungkan untuk merakit kata-kata ini. Semua kesan "sulit" itu muncul murni karena kurikulum memaksakan kacamata Barat dan memaksa murid membacanya lewat ejaan abjad Romawi.

Kalau dilihat dari kacamata aslinya, sistem ini benar-benar sangat teratur. Kita cuma memutar gigi hurufnya ke baris "あ", lalu menempelkan kata sifat ない, kata kerja bantu れる / られる, atau kata kerja bantu せる / させる. Sesederhana bongkar pasang lego!

Akar Kata baris "え" (E-stem)

Sekarang kita mampir ke E-stem (Akar kata baris 'え').

Sama presis seperti saudara-saudaranya, polanya sangat konsisten. Kamu cukup menggeser huruf dari baris "う" ke padanannya di baris "え".

Jadi かう menjadi かえ, きく menjadi きけ, はなす menjadi はなせ, dan seterusnya.

Bentuk Potensial (Can Do)

Kita memanfaatkan akar kata baris "え" ini untuk menciptakan bentuk Potensial, yaitu wujud yang menyatakan bahwa kamu bisa / mampu melakukan tindakan tersebut.

Kata kerja bantu yang tugasnya menempel pada akar "え" ini adalah (ru) atau られる (rareru).

Dan ya, meskipun wujud fisiknya cuma satu huruf "る" doang, statusnya secara tata bahasa adalah sebagai kata kerja bantu! Kalau kamu membuka kamus monolingual Jepang asli (bukan kamus terjemahan Jepang-Inggris), kamu akan menemukan entri "る" di sana dengan label 助動詞 / じょどうし (Kata Kerja Bantu). Ia memiliki dua bentuk adaptasi: untuk Godan, dan られる untuk Ichidan.

"られる", seperti yang mungkin langsung kamu sadari, memiliki wujud yang sama persis dengan bentuk Pasif yang baru kita bahas. Jadi khusus untuk kelompok Ichidan, wujud Pasif dan wujud Potensial-nya itu 100% kembar. TETAPI, karena konteks penggunaannya di kehidupan nyata sangatlah berbeda (antara "dimakan" vs "bisa dimakan"), kamu nyaris tidak akan pernah kebingungan membedakannya dalam obrolan sehari-hari.


Contoh penerapannya:

  • かえる (bisa membeli)
  • きける (bisa mendengar)
  • はなせる (bisa berbicara), dan seterusnya.
  • たべられる (bisa makan).

Akar Kata baris "お" (O-stem)

Akhirnya, kita sampai di terminal terakhir, yaitu akar kata baris "お". Sama seperti yang lainnya, ini juga sangat teratur.

かう menjadi かお; きく menjadi きこ; はなす menjadi はなそ.

Bentuk Volisional (Let's Do It)

Yang kita tempelkan pada akar kata ini hanyalah sebuah huruf "う" (u). Dan seperti yang sudah kamu ketahui tentang pelafalan bahasa Jepang, huruf "う" yang jatuh setelah huruf "お" berfungsi untuk memanjangkan bunyi "お" tersebut.

Jadi かう tidak dieja putus-putus menjadi kao-u, melainkan dibaca panjang menjadi かおう (kaō).

  • きく menjadi きこう (kikō)
  • はなす menjadi はなそう (hanasō).

Bentuk Volisional ini punya lumayan banyak fungsi, tapi karena hari ini kita hanya fokus membedah wujud strukturnya, saya akan memberikan satu fungsi dasarnya saja (yaitu untuk ajakan).

  • かおう (Mari kita beli)
  • きこう (Mari kita dengarkan)
  • はなそう (Mari kita bicara).

Untuk kelompok Ichidan, kita menempelkan よう (yō) di belakang akar katanya. (Dan tentu saja, selalu ingat untuk membuang る-nya).

Jadi たべる menjadi たべよう (Mari kita makan).

Salah satu rahasia unik dari bentuk volisional adalah: kamu juga bisa memasukkannya ke dalam mesin "ます" untuk menghasilkan kalimat ajakan berskala formal/sopan.

Ketika kamu melakukan ini, hasil akhirnya adalah wujud "ましょう" (mashō) sebagai ganti "ます". Dan karena kamu menggunakan keluarga "masu", secara hukum alam kamu wajib memasangnya pada akar kata "い" (I-stem), sama persis seperti saat kamu memasang "ます" biasa.

Jadi, "いましょう" (Ayo pergi).

Created by Kellen | Indonesian translation by DeepL