12. Partikel Kutipan "と", Kata Kerja Majemuk & Kata Benda Majemuk
こんにちは。
Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran bedah narasi (cerita) yang kita mulai minggu lalu. Dan karena kamu sudah mulai terbiasa, kali ini kita bisa melaju sedikit lebih cepat.
Mari kita segarkan kembali ingatan kita tentang cerita yang telah kita bedah sejauh ini.
ある日アリスは川のそばにいた。(Suatu hari Alice berada di tepi sungai.)
お姉ちゃんはつまらない本をよんでいてあそんでくれなかった。(Kakak perempuannya sedang membaca buku yang membosankan dan tidak mau bermain demi Alice.)
「おもしろいことがない」とアリスは言った。

Mari kita bedah kalimat barunya. おもしろい (omoshiroi) berarti menarik atau lucu; こと (koto) berarti hal/sesuatu. Dalam bahasa Jepang, ada dua kosakata umum yang diterjemahkan sebagai sesuatu, yaitu もの (mono) dan こと (koto).

Sebuah もの merujuk pada benda dalam arti harfiah: wujud fisik yang bisa disentuh—seperti topi, buku, sepasang kacamata, atau Gunung Fuji. Sebaliknya, こと adalah jenis 'benda' yang berwujud abstrak: suatu urusan, suatu kejadian, suatu keadaan, atau suatu pengalaman.
Jadi, ketika kita bertanya, Apakah ada sesuatu di dalam kotak itu?, yang kita maksud adalah もの. Dan ketika kita berkata, Ternyata masalahnya (sesuatunya) adalah..., yang biasanya kita maksud adalah こと.
Jadi, frasa おもしろいことがない bermakna: Tidak ada hal (kejadian) menarik yang terjadi, tidak ada keadaan yang menyenangkan di sini.
Lalu, apa itu 言った (itta)? Kata dasarnya adalah 言う (iu) yang berarti berkata (say). Kalau kamu perhatikan huruf Kanjinya, wujudnya terlihat seperti gambar mulut dengan gelombang suara yang memancar darinya. (Bentuk lampaunya -> 言った).

Namun, pahlawan struktural yang perlu paling kamu perhatikan di kalimat ini adalah partikel kecil と (to).

Sebenarnya ada dua jenis partikel と:
- Yang pertama berarti
dan(menggabungkan dua benda)—partikel ini sangat sederhana. - Yang kedua adalah apa yang kita sebut
partikel kutipan, dan varian inilah yang akan kita bahas sekarang.
Setiap kali kita mengutip ucapan seseorang (atau bahkan mengutip apa yang dipikirkan seseorang di dalam kepala), kita wajib menggunakan partikel と ini. Partikel ini bertindak sebagai sebuah 'tanda kutip tak kasat mata yang bisa didengar'.
Seperti yang bisa kamu lihat di teks aslinya, bahasa Jepang menggunakan kurung siku asimetris (「...」) sebagai padanan tanda kutip ("...") dalam bahasa Inggris. Tetapi dalam tata bahasa pelafalannya, mereka JUGA membungkusnya menggunakan と.
Jadi, kita tidak bisa hanya merakit kalimat: "Nothing interesting is happening," Alice said. Di bahasa Jepang, kita wajib merakitnya menjadi: "Nothing interesting is happening," **と** Alice said. と adalah partikel yang luar biasa menarik secara struktural, dan kita akan menggali lebih dalam soal kemampuannya sebentar lagi.
そのとき、白いウサギがとおりすぎた。

Mari bedah: そのとき (Sono toki). その berarti itu dan とき berarti waktu. Jadi secara harfiah kita mengatakan waktu itu, yang secara natural diterjemahkan menjadi saat itu / pada saat itu / tepat pada waktu itu. Sama seperti ungkapan penunjuk waktu relatif lainnya dalam bahasa Jepang (misal: besok, kemarin), kamu TIDAK perlu menempelkan partikel に pada kata ini. Kamu cukup menyebutkan waktunya dan langsung melanjutkan kalimat ceritanya.
Dalam konteks kalimat ini, そのとき menegaskan bahwa tepat di detik Alice mengeluh tidak ada hal menarik yang terjadi, tepat pada saat itulah, kejadian aneh ini dimulai.
そのとき、白いウサギがとおりすぎた。
白い (shiroi) berarti putih; ini adalah kata sifat murni yang berakhiran (い). ウサギ (usagi) berarti kelinci. Lalu, bagaimana dengan とおりすぎた (toorisugita)?
Kata ini tersusun dari perpaduan dua kata, dan trik perpaduan ini akan SANGAT SERING kamu jumpai dalam bahasa Jepang. Triknya: Memanfaatkan akar kata baris "い" (I-stem) dari sebuah kata kerja, lalu menggabungkannya dengan kata kerja LAIN untuk menciptakan satu makna ganda.
Dalam kasus ini: とおる (tooru) berarti lewat dan すぎる (sugiru) berarti melampaui/berlebihan/kebablasan. Jika disatukan menjadi とおりすぎる, artinya berubah menjadi melewat-lampaui alias melintas melewati (seseorang/sesuatu).
Kalimat utuhnya: そのとき、白いウサギがとおりすぎた。 -> Tepat saat itu, seekor kelinci putih melintas melewatinya.

ふつうのウサギではなくて、チョッキをきているウサギだった。

Bedah: ふつうのウサギではなくて (Futsū no usagi de wa nakute).
ふつう berarti biasa/normal, dan sisanya pasti sudah kamu pahami polanya. ではない (de wa nai) berarti bukan / tidak. Dan kita menyulapnya masuk ke dalam bentuk -て (menjadi なくて) karena klausa ini merupakan bagian dari kalimat majemuk—kita sudah membahas fungsi penyambung klausa dari bentuk-te ini minggu lalu, bukan?
(Catatan Editor: Di videonya Dolly me-refer ke Pelajaran 7, tapi ini merujuk pada pemakaian bentuk-te penyambung di Pelajaran 11. Selain itu, pola perubahannya juga dibahas di Pelajaran 5).
Jadi, ふつうのウサギではなくて = It was not an ordinary rabbit, [and...] (Itu bukanlah kelinci biasa, melainkan...).
…チョッキをきているウサギだった。
チョッキ (chokki) berarti rompi. きる (kiru) berarti memakai/mengenakan, sehingga wujud continuous きている (kite-iru) berarti sedang mengenakan / dalam kondisi memakai. Dan だった (datta), tentu saja, adalah bentuk lampau dari engine kopula だ (da).

Jadi makna utuhnya: Itu bukan kelinci biasa, itu adalah kelinci yang sedang mengenakan rompi.
ウサギはかいちゅうどけいを見て "おそい!おそい!" と言って、はしり出した。

Bedah: ウサギはかいちゅうどけいを見て (Kelinci itu melihat jam saku...)
Kosakata かいちゅうどけい (kaichū-dokei) ini mungkin sangat jarang kamu temui di kehidupan nyata sekarang karena jam saku sudah tidak zaman. Tapi, struktur perpaduan katanya adalah contoh brilian dari fenomena yang akan sangat sering kita temui di bahasa Jepang.
Seperti yang kita tahu, jika kita ingin memodifikasi sebuah kata benda menggunakan kata benda lainnya, kita wajib menjahitnya dengan partikel の (atau な, yang notabene turunan dari kopula だ). TETAPI, ada pengecualian. Ketika kita bermaksud bukan sekadar memodifikasi, melainkan ingin 'melebur' dua kata benda tersebut menjadi SATU kosa KATA BENDA BARU, maka kita bisa langsung menabrakkannya tanpa lem pemisah apa pun.
Karena kata benda tidak memiliki wujud akar kata (stems) layaknya kata kerja, mereka tidak perlu mengalami modifikasi apa pun. Kamu cukup membenturkan wujud aslinya menjadi satu kesatuan. Ini sama persis dengan aturan kata majemuk di bahasa Inggris, seperti penggabungan kata sea + weed (rumput laut) atau book + shelf (rak buku). Kita cukup menggabungkan dua benda itu untuk menciptakan satu istilah benda baru.
Mari kita bedah anatomi dari kata benda majemuk かいちゅうどけい ini:
かいちゅう / 懐中adalah kata benda yang agak spesifik, artinyabagian dalam sakuatauyang dikantongi.とけい / 時計adalah kata benda super umum yang berartijam(bahasa Jepang menggunakan satu kata ini untuk menyebut jam jenis apa pun, baik jam tangan, beker, maupun jam raksasa di menara).
Jadi: di dalam saku + jam = Jam saku (Pocket watch).
Namun coba dengarkan baik-baik. Mengapa kita melafalkannya sebagai **ど**けい (dokei) alih-alih wujud aslinya とけい (tokei)? Ini disebabkan oleh fenomena yang oleh karakter Alice di buku "Alice in Kanji Land" dijuluki sebagai "Ten-ten hooking" (Pengaitan Ten-ten).
Hukum alamnya: Ketika kamu menggabungkan dua kata benda menjadi satu kesatuan erat, DAN kata kedua kebetulan diawali oleh bunyi konsonan "tajam" seperti t atau k, maka bunyi tajam tersebut harus DITUMPULKAN (dijadikan voiced) menjadi padanannya, seperti d atau g.(Dalam ilmu linguistik murni, fenomena asimilasi suara ini dinamakan Rendaku).

INFO
Sebagai pedoman lanjutan: Fenomena Rendaku ini BIASANYA hanya terjadi jika kata benda kedua adalah kosakata asli Jepang (Kun'yomi) yang diawali dengan konsonan: h -> b, t -> d, k -> g, ts/s -> z, sh -> j. Kosakata serapan dari Tiongkok (On'yomi) BIASANYA kebal terhadap efek perubahan ini. Namun, TERKADANG jika ada bunyi sengau 'n' (ん) di ujung kata pertama, hal itu juga bisa memicu efek perubahan.
Dalam sistem tulis bahasa Jepang, peleburan bunyi ini ditandai secara visual dengan menambahkan dua tanda kutip kecil ゛ (disebut dakuten atau ten-ten) pada huruf kana di awal kata kedua. Sehingga と (to) melunak menjadi ど (do); た (ta) menjadi だ (da); く (ku) menjadi ぐ (gu); さ (sa) menjadi ざ (za), dan seterusnya.
Contoh klasik lainnya: あお berarti biru, そら berarti langit. Ketika kamu menggabungkannya menjadi satu kata "langit biru", kamu tidak melafalkannya sebagai Aosora, melainkan あお**ぞ**ら (Aozora). Kita menempelkan ten-ten pada huruf tajam di depan itu. Inilah yang Alice sebut sebagai 'Ten-ten hooking' (Pengaitan).
Ibaratnya, dua titik kecil itu bertindak bagai dua cakar (pengait) yang mencengkeram kata di depannya dan mengelasnya sehingga mereka tidak bisa dipisahkan lagi menjadi dua kata. Kamu akan menemukan fenomena asimilasi bunyi ini di mana-mana.
Dan tentu saja, sama seperti di bahasa Inggris, kamu tidak bisa secara asal-asalan membenturkan sembarang dua kata benda yang kamu suka. Tetapi memang ada ratusan kosakata resmi yang tercipta dari gabungan dua kata benda. Dan selama kosakata penyusunnya adalah hal-hal umum, kamu biasanya bisa menebak maknanya dengan sangat mudah.
Mari kita lanjutkan cerita kita:
…「おそい!おそい!」と言って…
Menggali Lebih Dalam Partikel Kutipan "と"
Nah, sekarang mari kita saksikan kehebatan sebenarnya dari partikel "と" ini. Seiring kita masuk ke kalimat majemuk berlapis (seperti kalimat kelinci di atas yang memiliki tiga lapis tindakan), kita akan menyadari betapa krusialnya peran partikel kutipan ini.

Secara struktural, fungsi utama dari "と" adalah MENGURUNG apa pun yang ditandainya—entah itu cuma dua kata pendek seperti "Osoi! Osoi!", ataupun satu paragraf utuh yang berisi puluhan kerumitan tata bahasa—ia mengurung semuanya sebagai sebuah "Kutipan", lalu secara ajaib MENYULAP bongkahan panjang tersebut menjadi SATU BUAH KATA BENDA raksasa.
Ibaratnya, gerbong putih "と" ini membungkus semuanya ke dalam sebuah kotak, lalu melabeli kotak itu dengan status: "Ini adalah gerbong putih bersimbol と". Seiring waktu, kamu akan menyadari bahwa fungsi ini tidak hanya dipakai eksklusif untuk mengutip ucapan atau isi pikiran seseorang saja, tetapi juga untuk banyak fungsi lain. (Kita akan melihat contohnya di akhir bab ini).
Intinya, struktur と membungkus apa pun yang ditandainya menjadi sebuah wujud kata benda abstrak, yang kemudian bertindak bagai adverbia (kata sifat) yang memodifikasi KATA KERJA yang jatuh tepat setelahnya.

Jika itu adalah kutipan ucapan sederhana, kata kerja penutupnya biasanya adalah 言う (berkata/mengatakan). Tetapi kata kerja penutupnya juga sangat bisa diisi oleh 考える (kanghaeru / merenungkan/memikirkan secara mendalam) atau 思う (omou / merasa/berpendapat). Dan bahkan, masih banyak lagi tindakan-tindakan lain yang bisa dijembatani oleh と, seperti yang akan segera kamu lihat. Inilah anatomi utuh dari sebuah kalimat yang menggunakan tanda kutip "と" untuk menyalurkan pernyataan.
「おそい!おそい!」と言って、はしり出した。
おそい (osoi) berarti terlambat (late). Karena ucapan ini adalah sebuah kalimat mandiri di dalam kutipan, ia jelas membutuhkan sosok subjek tak terlihat (zero-ga). Jadi, apa yang sebenarnya diteriakkan oleh kelinci itu adalah: [I am] late! (SAYA terlambat!).

Mari kita bedah utuh kalimatnya: ウサギは (zero-ga) かいちゅうどけいを見て、「おそい!おそい!」と言って、はしり出した。
(Adapun kelinci) [Ia] melihat jam saku, lalu berkata, "Saya terlambat! Terlambat!", lalu berlari keluar.
Dalam film versi Disney, tentu saja kelinci itu berteriak dengan ikonis: I'm late! I'm late! (Aku terlambat! Aku terlambat!).
Perhatikan trik ini: Kita TIDAK PERLU menuliskan ウサギは「...」と言って (Kelinci berkata...) lagi di tengah-tengah kalimat, karena kita sudah meletakkan bendera topik ウサギは di awal kalimat majemuk ini. Topik yang dideklarasikan di awal akan terus memayungi dan menjadi subjek dari semua tindakan yang terjadi di dalam klausa-klausa berikutnya.
Jadi, kalimat kelinci ini adalah kalimat majemuk bertingkat tiga yang dijahit rapat oleh wujud-te: Klausa 1: Kelinci melihat arloji (見て) Klausa 2: Kelinci berkata "Aku terlambat" (言って) Klausa 3: Kelinci melesat lari.

INFO
Kotak biru dalam gambar tersebut menyoroti bahwa ucapan di dalam tanda kutip itu juga memiliki subjek zero-ga tersendiri, yaitu diri si kelinci itu sendiri yang sedang terlambat (I'm late).
Setelah ia berteriak おそい!, apa klausa ketiga (tindakan pamungkas) yang ia lakukan?
はしり出した。
はしる (hashiru) berarti berlari. 出す (dasu) secara harfiah berarti mengeluarkan. Ini adalah kombinasi I-stem (kata kerja majemuk) brilian lainnya yang akan sangat sering kita temui. Kita menggunakan trik menyatukan akar kata baris "い", mengubah はしる menjadi はしり, dan menjahitnya langsung dengan 出す. Lalu apa makna kombinasi ini?

Ketika 出す (mengeluarkan) digabungkan di ekor sebuah kata kerja, maknanya berubah drastis menjadi: tindakan tersebut "meledak keluar secara tiba-tiba" (erupted).
Contoh:
泣く / なく(menangis). Kita modifikasi jadi I-stem, lalu ditempel出す->泣き出す(nakidasu), yang artinya berubah menjadiburst out crying(pecah menangis sejadi-jadinya/tiba-tiba menangis).笑う(tertawa). Kita modifikasi ->笑い出す(waraidasu), artinyaburst out laughing(meledak tertawa).
Lalu apa yang terjadi pada si kelinci? Ia tiba-tiba melesat lari kencang—ia memulai aksinya berlari dengan penuh kepanikan.
ウサギはかいちゅうどけいを見て「おそい!おそい!」と言って、はしり出した。 -> Kelinci itu melihat jam saku miliknya, berteriak "Aku terlambat! Terlambat!", dan ia seketika melesat lari.

Melihat itu, Alice bereaksi:
「ちょっとまってください」とアリスはよんだ。

「ちょっとまってください」 (Chotto matte kudasai) adalah salah satu frasa mutlak yang akan paling sering kamu dengar seumur hidupmu jika belajar bahasa Jepang. (Di kehidupan nyata, terkadang kata penutup ください sering dihilangkan di obrolan informal). Apa makna struktural dari frasa ini?
ちょっと berarti sedikit / sebentar. まって adalah wujud-te dari 待つ / まつ, yang berarti menunggu. ください berarti tolong/berikan.
Kata ください ini sebenarnya berkerabat kandung dengan kata くれる yang kita bahas di Pelajaran 11. Konsep filosofisnya sama persis: "memberikan ke bawah". Makna literal dari kudasai adalah tolong berikan ke saya (turunkan ke level saya), sehingga ini adalah bentuk sangat sopan yang digunakan saat meminta sesuatu.
Dan persis seperti くれる dan あげる, kata ください BUKAN cuma dipakai untuk meminta barang. Jika ia dihubungkan dengan sebuah wujud-te dari kata kerja, fungsinya adalah 'meminta agar tindakan dari kata kerja tersebut diberikan kepada kita'. (Dalam hal ini, meminta agar lawan bicara 'memberikan' waktu tunggunya).
Karena permohonan ini sangat sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, menempelkan kata kerja wujud-te dan menjahitnya dengan ください (-てください) sudah menjadi formula baku untuk mengatakan 'Tolong lakukan X'.
Jadi, ちょっとまってください berarti Tolong tunggu sebentar. Alice memohon agar kelinci itu berhenti karena ia ingin menemuinya.
「ちょっとまってください」とアリスはよんだ。
Di sinilah kita kembali menemukan partikel "と", si pengurung kutipan. Dan kemudian ditutup dengan kata よんだ (yonda).
Tunggu dulu. よんだ? Apa artinya? Kita sudah pernah ketemu kata よんだ sebelumnya, kan? Yaitu bentuk lampau dari kata membaca (読む / yomu -> yonda). TAPI, di kalimat ini, maknanya BERBEDA. Ini adalah bentuk lampau dari kata kerja 呼ぶ (yobu / memanggil).

Coba ingat-ingat kembali hukum konjugasi Wujud-te dan Wujud-ta.[5] Kelompok kata kerja "New Boom", yaitu kata kerja yang berakhiran 'tumpul' ぬ (nu), ぶ (bu), dan む (mu), semuanya mengubah ekornya menjadi んで (nde) pada Wujud-te, dan menjadi んだ (nda) pada Wujud-ta.
Itulah kenapa, 読む (membaca) dan 呼ぶ (memanggil/berteriak), KEDUANYA berevolusi menjadi wujud masa lalu yang ejaannya sama persis: よんだ. Untungnya, konteks situasinya selalu sangat jelas sehingga kita nyaris tidak mungkin salah mengartikan antara sedang 'membaca' dengan sedang 'memanggil/berteriak'. (Apalagi jika disandingkan dengan partikel kutipan と).
Kata 呼ぶ ini memiliki banyak makna kontekstual yang identik dengan kata call di bahasa Inggris. Kamu bisa 'memanggil' (mengundang) seseorang, kamu bisa 'memanggil/menyebut' apel sebagai lemon (meskipun kamu salah), atau kamu bisa 'berteriak memanggil' (call out). Di cerita Alice, ia sedang berseru/berteriak.
「ちょっとまってください」とアリスはよんだ。 -> 'Tolong tunggu sebentar!' seru Alice.
でもウサギはピョンピョンとはしりつづけた。

TIP
Tips mengetik: Jika kamu ingin mengetik 続ける / つづける di keyboard, kamu harus mengetiknya dengan ejaan tsuDUkeru. Jika kamu mengetik Dzu, komputermu akan menampilkannya sebagai dず.
でも (demo) berarti tetapi. はしる berarti berlari. Kita akan mengabaikan ピョンピョン sebentar. つづける (tsuzukeru) berarti melanjutkan. Sekali lagi, kita melihat kombinasi I-stem magis bahasa Jepang! Kita mengambil kata はしる, mengubahnya menjadi akar はしり, lalu menempelkan kata kerja つづける.
Jadi, はしりつづけた (hashiri-tsuzuketa) berarti terus/melanjutkan berlari. ウサギははしりつづけた -> Kelinci itu terus berlari.
Lalu apa itu ピョンピョン (Pyon-pyon)? Kata-kata seperti ピョンピョン (kata yang diulang dua kali) adalah elemen super ikonik dari bahasa Jepang, dan kamu akan menemukannya di mana-mana. Ini adalah ONOMATOPE atau efek suara/visual. Bahasa Jepang punya ribuan kata pengulangan semacam ini. Contoh: シクシク (shiku-shiku) adalah efek suara untuk menangis terisak-isak. Beberapa kata merupakan tiruan persis dari suara yang dihasilkan (seperti gemerincing koin), sementara yang lainnya lebih merepresentasikan "keadaan/visual" dari benda tersebut (seperti benda yang lembek, basah kuyup, atau sunyi senyap).
ピョンピョン ini nyaris merupakan tiruan efek suara harfiah. Ini adalah representasi audio-visual dari sesuatu (atau binatang) kecil yang sedang melompat-lompat dengan lincah. (Kalau di komik, ini sering dipakai sebagai efek suara kelinci atau katak).
Jika ini adalah adegan anime, kamu mungkin akan benar-benar bisa "mendengar" suaranya di backsound: Pyon! Pyon! Pyon! Pyon!...
Jadi, karena tokoh kita adalah seekor kelinci, ia tentu tidak berlari seperti cara gajah atau macan berlari, melainkan ia berpindah tempat dengan cara melompat-lompat kecil khas kelinci.
Fakta gramatika yang paling penting untuk dipelajari di sini adalah: cerita ini merangkainya menjadi ピョンピョン**と** (Pyon-pyon TO).
Di sinilah kita kembali dihadapkan pada keajaiban fungsi partikel kutipan と. Dalam kasus ini, と digunakan untuk MEMBUNGKUS "bagaimana cara kelinci itu berlari". Karena Pyon-pyon secara teknis adalah suara fiktif (bukan kata keterangan formal), kita 'mengutip' efek suara tersebut dan menyajikannya sebagai sebuah adverbia untuk mendeskripsikan KATA KERJA yang menyusul. Ia berlari (sambil memancarkan status kutipan): "melompat-lompat lincah".
Selesai untuk hari ini! Minggu depan, kita akan menyaksikan adegan legendaris apa yang menanti kelinci dan Alice. Menurutmu, apa yang akan Alice lakukan?