8. Partikel "に" dan "へ"
Pelajaran 8: Lokasi, tujuan, dan transformasi — kunci pemahaman partikel "ni" dan "he"
こんにちは。
Hari ini kita akan membahas partikel に (ni). Mempelajari partikel ini berarti kita secara resmi menaikkan level kemampuan bahasa Jepang kita.
Apa maksud saya? Selama tujuh pelajaran sebelumnya, kita telah mempelajari cukup banyak fondasi struktur dasar bahasa Jepang. Berbekal ilmu itu, kita sebenarnya sudah bisa membicarakan banyak hal (asalkan punya perbendaharaan kosakata yang cukup). Namun, semua hal yang bisa kita bicarakan sejauh ini sifatnya sangat, sangat konkret dan saklek.
Kita sudah bisa membicarakan tentang melakukan sesuatu dan menjadi sesuatu—yang tentu saja merupakan tulang punggung dari setiap kalimat. Namun di dunia nyata, kita juga butuh merakit konsep kalimat yang sedikit lebih canggih. Konsep seperti menyatakan tujuan, niat, atau transformasi (perubahan wujud). Jadi hari ini, kita akan membedah berbagai penggunaan partikel "に". Beberapa fungsinya sangat konkret, sementara beberapa sisanya akan mulai membawa kita menyelam ke area yang lebih abstrak dan kompleks.

Kamu pasti ingat, kita sebenarnya pernah menyinggung partikel "に" sebelumnya, kan? Dan kita sudah tahu bahwa di dalam sebuah struktur kalimat logis, partikel "に" bertugas menandai 'sasaran akhir' atau 'tujuan' dari suatu tindakan.
Contohnya: (zeroが)さくらにボールをなげた berarti I threw the ball at Sakura (Saya melempar bola ke arah Sakura).

Bola ditandai dengan gerbong を (o) karena bola adalah objek benda fisik yang saya lempar. Saya sebagai pelaku ditandai dengan gerbong が (ga), terlepas dari apakah kamu bisa melihat tulisan pelakunya atau tidak (zero-ga), karena sayalah yang melakukan tindakan melempar itu.
Lalu, Sakura ditandai dengan に karena dia adalah 'sasaran/target' dari tindakan melemparan tersebut. Dalam konteks ini, ia menjadi target secara harfiah (fisik).
Sekarang, kembangkan logikanya: partikel "に" nyaris selalu berfungsi menandai sebuah sasaran, dalam wujud apa pun. Jadi, jika kita pergi ke suatu tempat, mengirim barang ke suatu tempat, atau meletakkan sesuatu di suatu tempat, kita selalu menggunakan "に" untuk menandai tempat tersebut. Jika A pergi ke B, maka B ditandai dengan に. B adalah target/sasaran dari perjalanan tersebut.
Jadi, jika saya mau bilang saya pergi ke taman, saya merakitnya: (zeroが)こうえんにいく. (Kōen = taman).

Jika saya pergi ke toko, saya merakitnya: (zeroが)おみせにいく.

Kesimpulannya: tujuan atau sasaran pergerakan fisik yang nyata akan selalu ditandai dengan に. Namun, keajaiban partikel ini adalah, ia juga bisa menandai jenis sasaran yang lebih halus (abstrak).
Mari kita lihat kalimat ini: (zeroが)おみせにたまごを**かいに**いく. Ini berarti I go to the shops **to buy** eggs (Saya pergi ke toko untuk membeli telur).

Mari kita bedah kosakatanya. おみせ adalah toko. Kata dasarnya adalah みせ, lalu kita menambahkan awalan sopan お untuk menghormati orang-orang yang bekerja keras membantu kita mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari. たまご adalah telur. (Kamu mungkin ingat mainan anak 90-an Tamagotchi—makhluk digital kecil berbentuk telur yang harus kamu rawat).
Lalu, perhatikan kata かい (kai). Ini sebenarnya adalah wujud akar kata I-stem dari kata kerja かう (kau) yang berarti membeli. Ingat pelajaran sebelumnya? Akar kata I-stem ini adalah akar yang sangat istimewa. Ia bisa ditempeli macam-macam kata bantu, TETAPI ia juga bisa berdiri sendiri.

Saat berdiri sendiri, かいにいく berarti [go] in order to buy, for the purpose of buying (Pergi untuk tujuan membeli).
Sampai di sini, kamu mungkin akan protes, "Tunggu dulu, bukankah aturan emasnya bilang kalau partikel logis seperti に, が, dan を HANYA BISA ditempelkan pada Kata Benda?"
Kamu 100% benar! Karena itulah salah satu kehebatan lain dari akar kata I-stem. Ketika sebuah akar kata I-stem dibiarkan berdiri sendiri tanpa embel-embel apa pun di belakangnya, fungsinya OTOMATIS BERUBAH dan menyulap kata kerja tersebut menjadi sebuah 'kata benda yang setara'.
INFO
Ingat kembali Pelajaran 7.5 mengenai A-stem "い" dan kemampuannya mengubah kata kerja menjadi kata benda.
(I-stem ini juga bisa melakukan sihir lain, tapi kita bahas kapan-kapan saja.)

Jadi, wujud かい di sini sejatinya adalah kata benda yang berarti 'tindakan membeli'. Sama logikanya seperti dalam bahasa Inggris. Saat kita bilang I like swimming (Saya suka berenang), kata swimming di situ statusnya adalah kata benda, yaitu kegiatan yang saya sukai. Jadi kalau kita bilang I go to the shop for the purpose of buying eggs (Saya pergi ke toko dengan tujuan membeli telur), maka kata buying (kegiatan membeli) di situ juga berfungsi sebagai kata benda. Nah, かい bekerja dengan logika yang persis sama!
Jadi, karena かい (tindakan membeli) adalah sebuah kata benda yang merupakan 'tujuan' dari kepergian kita, maka wajar dong ia ditandai dengan に.
Lewat demonstrasi ini, kamu bisa melihat bahwa dalam satu kalimat utuh, kita ternyata bisa memiliki dua buah target/sasaran sekaligus:

- Toko (
おみせ) – adalah target fisik perjalanan kita (tempatnya). - Membeli telur (
たまごをかい) – adalah alasan/niat kita pergi. Ini adalah target emosional, target niat, target abstrak yang wujudnya lebih halus dari sekadar tempat fisik, tetapi statusnya tetaplah sebuah "target".
Dan di dalam bahasa Jepang, SANGAT MUNGKIN untuk memiliki dua target sekaligus dalam kalimat yang sama, dan keduanya sah-sah saja ditandai dengan に. Itulah tepatnya keajaiban struktur yang sedang kita rangkai di atas.
Kesimpulannya: Partikel に menandai "target/sasaran" dari suatu tindakan. Entah itu target dalam wujud harfiah (lokasi fisik), maupun target niat (tujuan abstrak dari tindakan kita).
Sekarang, mari kita kembali ke fungsi yang lebih konkret. Partikel に yang tugasnya menandai lokasi "ke mana kita pergi/ke mana kita meletakkan sesuatu", bisa diperluas lagi fungsinya untuk menandai lokasi "di mana seseorang atau sesuatu BERADA/EKSIS".
Contoh: Kita bisa bilang おみせにいく – I am going to the shops / I will go to the shops (Saya pergi ke toko). Dan kita juga bisa bilang おみせにいる – I am at the shops (Saya berada di toko).

こうえんにいく – I'll go to the park (Saya akan pergi ke taman). こうえんにいる - I'm at the park (Saya berada di taman).

Coba pahami logikanya. Keberadaan juga merupakan sebuah "target". Kenapa? Karena agar suatu makhluk bisa berada di suatu tempat sekarang, ia pasti sudah pernah mencapai target tersebut di masa lalu. Jadi に tidak hanya eksklusif untuk menandai target di masa depan (tempat yang akan saya tuju), tetapi juga sangat bisa menandai target masa lalu (tempat yang sudah saya capai dan saya masih berada di sana).
Fungsi penunjuk lokasi berada ini juga berlaku untuk benda mati: ほんはテーブルのうえにある – The book is on the table (Buku itu ada di atas meja).
うえ (ue) adalah kata benda murni yang berarti atas. Jadi, うえ di sini merujuk pada area di bagian atas meja. (Ingat, kosakata penunjuk posisi itu selalu berupa kata benda). Jadi dalam kalimat ini, kalimat on of the table (di bagian atas meja) adalah sebuah tempat di mana buku tersebut menetap:

Meja itu adalah tujuan masa lalu dari si buku—yaitu ke mana buku itu sebelumnya diletakkan, sehingga di sanalah ia berada sekarang. Sekali lagi: に berfungsi kuat untuk menandai tempat/lokasi di mana suatu benda atau makhluk menetap/berada.
に Menandai Target Transformasi (Perubahan Wujud)
Aspek terakhir dan yang tak kalah penting dari partikel に: ia juga bertugas menandai 'sasaran/hasil akhir' dari sebuah transformasi (perubahan).

Logikanya konsisten. Sama seperti ketika A pergi ke B, に akan menempel pada B sebagai tempat tujuannya. Maka ketika A berubah menjadi B, に juga akan menempel pada B, yaitu sebagai wujud sasaran transformasi akhirnya.
Contohnya: さくらはかえるになった. かえる (kaeru) berarti katak. なる (naru) adalah kata kerja kerabat dekat dari ある (aru). Kalau ある bermakna to be (ada), maka なる bermakna become (menjadi).

Jadi kalimat さくらはかえるになった bermakna: Sakura became a frog / Sakura turned into a frog (Sakura berubah menjadi seekor katak). Dan partikel に menempel pada katak, karena katak adalah target/hasil akhir perubahannya.
Kamu mungkin berpikir sambil tertawa, "Bro, emangnya seberapa sering sih ada orang zaman sekarang tiba-tiba berubah jadi katak?" Memang contohnya sedikit konyol. Tetapi, memahami struktur transformasi ini adalah harga mati. Karena di dunia nyata, ada banyak sekali hal sehari-hari yang mengalami transisi perubahan menjadi hal lain. Dan kita JAUH lebih sering menggunakan struktur kalimat ini di bahasa Jepang ketimbang padanannya di bahasa Inggris atau Indonesia.
Misalnya untuk merayakan ulang tahun: ことし(zeroが)十八さいになる. ことし (kotoshi) adalah tahun ini, 十八さい / じゅうはっさい (jūhassai) adalah umur 18 tahun. Jadi kita merakitnya menjadi: This year (I) become 18 (Tahun ini saya menjadi umur 18 tahun).
Atau kalau mau dibedah logikanya:
This year (I) 18 years old-to become.

Dalam bahasa Inggris atau Indonesia, kita mungkin menyingkatnya dengan I turn 18 atau Saya akan ulang tahun ke-18, tetapi logika asli bahasa Jepang secara harfiah akan selalu mengatakan Saya akan berubah *menjadi* 18 tahun.
Contoh cuaca. Jika langit perlahan mendung, kita akan bilang: あとで(zeroが)くもりになる. (くも adalah awan, くもり adalah cuaca yang berawan/mendung. Keduanya adalah kata benda).

Kita bilang くもりになる yang bermakna become cloudy.
Atau kalau dibedah logikanya:
Cloudy-to become.
Kita tidak punya padanan literal yang natural untuk kalimat ini. Di bahasa Indonesia kita biasanya cuma bilang Nanti bakal mendung, tapi orang Jepang akan selalu merakit strukturnya dengan menceritakan perubahan wujud: cuacanya menjadi (になる) mendung. Karena hal ini sering terjadi, wajar kalau kamu harus menghafal struktur sakti ini.
Transformasi "Menjadi" pada Kata Sifat
Satu hal yang harus digarisbawahi: Untuk kasus kata sifat, aturan perubahannya SEDIKIT berbeda.
Jika kita ingin mengatakan Sakura is beautiful, kita merakitnya: さくらがうつくしい (うつくしい / utsukushii adalah kata sifat murni yang berarti is-beautiful). Namun, kalau kita ingin mengatakan Sakura became beautiful (Sakura berubah menjadi cantik), kita TIDAK BISA menempelkan partikel に ke sana. Kenapa? Karena うつくしい bukanlah kata benda. Ia tidak punya gerbong. Ia adalah engine.
INFO
Ingat, うつくしい adalah kata sifat (Atau diistilahkan sebagai Engine-い).
Lalu apa solusinya?
Kita cukup menggunakan trik yang sudah kita bahas minggu lalu: kita memodifikasi wujud akhiran kata sifat itu. Caranya sangat sederhana: kita potong akhiran "い" (-i) di belakangnya, lalu menggantinya dengan "く" (-ku).
INFO
Jadi, potong "い" menjadi "うつくし", lalu tempelkan "く" sehingga menjadi "うつくしく".

INFO
Secara teknis linguistik, penggantian menjadi "く" ini secara otomatis menyulap kata sifat うつくしい menjadi sebuah 'kata keterangan/adverb'. Materi mendalam soal kata keterangan ini akan Dolly bahas di Pelajaran 41.

Dan selesai! Itu saja yang perlu kita ubah. Jadi rakitannya menjadi: さくらがうつくしくなった – Sakura became beautiful (Sakura menjadi cantik).
Kenapa pakai なった? Karena なった adalah wujud masa lalu dari なる (menjadi). なる tunduk pada hukum konjugasi kata kerja kelompok Godan (karena huruf sebelum る-nya bukanlah dari baris -i atau -e, melainkan -a).
Sampai di titik ini, kamu telah menguasai berbagai instrumen untuk mengekspresikan konsep kalimat yang jauh lebih halus dan kompleks: seperti niat, target abstrak, dan perubahan wujud/transformasi. Selamat, kemampuan Jepanganmu sudah resmi naik level!
Partikel "へ" (He)
Sebelum kita tutup sesi ini, saya akan memberikan satu bonus partikel lagi yang belum pernah kita sentuh sebelumnya, yaitu partikel "へ". Saya janji, ini sangat amat mudah.
Secara tulisan, partikel へ ini meminjam wujud huruf kana "へ" (he). Namun aturan khususnya adalah: ketika huruf ini berfungsi sebagai partikel penunjuk, kita HARUS melafalkannya sebagai "え" (e).
Ini adalah partikel yang super gampang dihafal karena ia HANYA punya satu tugas saja di dunia ini. Dan tugasnya itu meminjam salah satu fungsi spesifik milik si pisau lipat Swiss に.
Fungsinya adalah ini: ketika kita ingin menyatakan "ke mana kita akan pergi" (A is going to B) – maka secara logika B harus ditandai dengan に. Nah, sebagai variasi gaya bahasa, kita BISA mengganti posisi に tersebut dan menandai B menggunakan へ.

Dan itulah satu-satunya tugas yang bisa dikerjakan oleh へ. Seperti yang saya bilang tadi, ini adalah partikel miskin yang cuma punya satu fungsi mutlak. Ia bahkan terlalu lemah untuk bisa menandai tempat di mana suatu makhluk menetap (berada). Ia murni hanya bisa menandai sebuah 'arah tempat' yang akan dituju oleh sesuatu di masa depan.
INFO
Intinya, partikel ini murni menitikberatkan pada 'arah' (direction). Penjelasan beda tipisnya dengan ni akan dibahas lebih detail di Pelajaran 8b.
Karena fungsinya yang sesederhana itu, へ sangat bagus untuk dihafalkan sebagai cadangan "gerbong tambahan" di dalam gudang persenjataan tata bahasamu, bukan?