Skip to content

4. Bentuk Kata Kerja dalam Bahasa Jepang

Pelajaran 4: Bentuk kata kerja masa lalu, sekarang, dan masa depan dalam bahasa Jepang. Bagaimana sebenarnya bentuk kata kerja dalam bahasa Jepang bekerja

こんにちは。

Hari ini kita akan membahas tentang Tenses (perubahan bentuk kata kerja bedasarkan waktu). Sampai detik ini, kita hanya menggunakan satu jenis tense, yaitu bentuk dasar kata kerja yang biasa kamu temukan di dalam kamus: 食べる / たべる (makan), 歩く / あるく (berjalan), dan seterusnya. Namun, untuk bisa berbicara bahasa Jepang secara alami, kita sebenarnya membutuhkan tiga jenis tenses.

Kamu mungkin langsung berpikir, "Oh, pasti masa lalu (past), masa kini (present), dan masa depan (future), kan?" Ternyata, tidak persis seperti itu.

Bentuk Non-Lampau (Non-past Form)

Bentuk kata kerja yang kita gunakan selama ini sebenarnya bukanlah bentuk masa kini (present). Bentuk ini disebut bentuk non-lampau (non-past). Banyak pelajar yang merasa istilah ini membingungkan. Mereka sering mengeluh, "Kenapa sih bahasa Jepang nggak punya simple present tense kayak bahasa Inggris aja, daripada harus pakai istilah abu-abu dan misterius seperti non-past?"

Padahal sebenarnya, konsep ini sama sekali tidak membingungkan. Yang bikin hal ini terasa rumit—untuk kali ini—bukanlah karena bahasa Jepang diajarkan dengan cara yang aneh, melainkan karena tata bahasa Inggris kitalah yang sering kali diajarkan dengan cara yang keliru. Kenyataannya, konsep non-past dalam bahasa Jepang punya cara kerja yang sangat mirip dengan non-past dalam bahasa Inggris.

Memangnya apa itu bentuk non-past dalam bahasa Inggris? Itu adalah bentuk dasar sebuah kata kerja di kamus: eat, walk, dll. Kenapa saya menyebutnya non-past (bukan masa lalu)? Mari kita ambil sebuah contoh skenario.

Bayangkan kamu menerima pesan teks di ponselmu (携帯 / けいたい) yang berbunyi: I walked to the cafe and now I eat cake and drink coffee. Apa yang langsung terlintas di pikiranmu tentang orang yang mengirim pesan itu? Kamu pasti langsung tahu kalau dia bukan penutur asli bahasa Inggris (bukan native speaker), kan? Karena, tidak ada native speaker yang akan bilang I eat cake and I drink coffee ketika yang ia maksud adalah I am eating cake and drinking coffee right now (Saya sedang makan kue dan minum kopi sekarang).

Lalu, kapan tepatnya orang Inggris bilang I eat cake? Kita menggunakan bentuk itu untuk menyatakan kebiasaan atau fakta umum: "Saya makan kue. (Artinya: Saya bukan tipe orang yang anti kue. Setiap ada kue, ya pasti saya makan.)" Tapi, bentuk itu tidak berarti bahwa saya sedang makan kue tepat pada detik ini.

Kapan lagi kita menggunakan bentuk dasar (non-past) ini dalam bahasa Inggris? Kita juga sering menggunakannya untuk membicarakan rencana masa depan (future): Next week I fly to Tokyo. (Minggu depan saya terbang ke Tokyo) atau Next month I have an exam. (Bulan depan saya ada ujian).

Dan ya, kadang-kadang bentuk ini memang bisa merujuk ke masa kini (present), tapi biasanya hanya di dalam sastra atau narasi buku: "Matahari terbenam di ufuk barat, dan sebuah robot kecil berlari melintasi pantai." Tapi kamu kan nggak pakai gaya bahasa puitis seperti itu buat ngobrol sehari-hari, kan?

Kesimpulannya, bentuk dasar bahasa Jepang itu punya fungsi yang sangat mirip dengan bahasa Inggris. Kalau kamu paham konsep di bahasa Inggris, kamu pasti paham yang di bahasa Jepang. Sebagian besar waktu, bentuk dasar (non-lampau) dalam bahasa Jepang digunakan untuk merujuk pada peristiwa di masa depan. いぬがたべる - The dog will-eat (Anjing itu akan makan). さくらがあるく - Sakura will-walk (Sakura akan berjalan).

Cara kita menggunakannya di pelajaran-pelajaran sebelumnya (misalnya mengartikan Sakura walks) itu memang mungkin dan sah secara tata bahasa, tetapi itu bukanlah cara yang paling natural. Kita menggunakannya seperti itu karena saat itu hanya itulah satu-satunya bentuk kata kerja yang sudah kita pelajari.

Tindakan Berkelanjutan (Continuous) dan Bentuk "ている"

Lalu, kalau kita ingin mengatakan sesuatu yang natural dan sedang terjadi saat ini, seperti Sakura is walking (Sakura sedang berjalan), apa yang harus kita lakukan?

Coba kita lihat bahasa Inggris lagi. Dalam bahasa Inggris, kita kan tidak bilang Sakura walking, tapi kita harus menambahkan kata to be, sehingga menjadi Sakura IS walking atau We ARE walking.

Kabar baiknya, di bahasa Jepang, kita tidak perlu pusing menghafal berbagai perubahan bentuk to be seperti is/am/are. Kita cukup menggunakan satu kata sakti yang sama setiap saat, yaitu: いる (iru).

いる memiliki arti ada/berada (khusus untuk makhluk hidup seperti hewan dan manusia). Dan untuk membentuk present continuous (sesuatu yang sedang berlangsung), kita akan selalu memanggil bantuan いる ini.

Jadi, Sakura is walking menjadi さくらがあるいている. Lalu Dog is eating menjadi いぬがたべている.

Sekarang, coba kamu perhatikan kalimat いぬがたべている. Di situ ada sebuah elemen baru yang belum pernah kita bahas sebelumnya, yaitu engine putih.

Engine putih adalah sebuah komponen yang wujud fisiknya berupa kata kerja (engine), namun dalam kalimat ini, ia BUKANLAH predikat utamanya. Tugas engine putih ini adalah memodifikasi, atau memberi keterangan tambahan kepada salah satu elemen inti kalimat.

Jadi, inti murni dari kalimat tersebut sebenarnya hanyalah いぬがいる - the dog is (anjing itu ada). Namun, si anjing tidak sekadar diam dan "ada" begitu saja—ia sedang melakukan sesuatu. Nah, engine putih itulah yang bertugas memberi tahu kita apa yang sedang dilakukan si anjing: ia sedang eating (makan). Kamu akan sering menjumpai struktur "engine putih" seperti ini seiring berjalannya proses belajar kita ke depan.

Sama halnya dengan bahasa Inggris, kita tidak bisa asal menggabungkan dua kata dasar menjadi the dog is eat. Kita harus mengubah kata kerja eat ke dalam bentuk khusus (yaitu ditambah -ing menjadi eating) sebelum digabungkan dengan kata "berada" (is). Di bahasa Jepang pun polanya sama. Daripada asal tabrak, kita harus mengubah kata kerjanya terlebih dahulu menjadi bentuk -te sebelum digabung dengan いる. Itulah kenapa hasilnya menjadi 食べている/たべている dan 歩いている/あるいている.


Lalu, bagaimana cara kita mengubah kata kerja dasar ke dalam bentuk (te-form) ini?

Untuk kata kerja yang jinak seperti 食べる/たべる (taberu), caranya sangat gampang. Kamu cuma perlu mencopot huruf di belakangnya, lalu menempelkan huruf sebagai gantinya. たべる langsung berubah cantik menjadi たべて.

Berita buruknya: untuk jenis kata kerja yang lain, cara menempelkan huruf -nya sedikit berbeda. Selain pola pencopotan tadi, ada empat jenis pola lainnya. Beberapa buku teks mungkin bilang ada lima, tapi dua di antaranya punya pola yang sangat mirip, jadi kita bisa meringkasnya jadi empat pola saja.

Saya sudah membuat satu video khusus yang membahas empat pola ini.[5] Dan saya jamin, penjelasan di video saya jauh lebih masuk akal dan gampang dihafal ketimbang penjelasan di buku teks mana pun.

Jadi, kamu wajib banget menonton video tersebut agar kamu bisa menguasai cara membentuk present continuous. Kabar baiknya lagi: pola perubahan kata kerja dalam bahasa Jepang ini sangatlah teratur (regular). Begitu kamu hafal pola akhirannya, kamu pasti otomatis tahu cara menempelkan pada kata tersebut. Satu-satunya pola yang agak sedikit 'tricky' cuma kata kerja berakhiran saja, tapi video itu akan membongkar rahasianya buatmu.

Bentuk Lampau (Past Tense)

Lalu, bagaimana caranya mengubah kalimat menjadi bentuk masa lalu (past tense)? Untungnya, ini yang paling gampang! Kamu cuma perlu menempelkan huruf (ta) – udah, itu aja. Jadi: いぬがたべるdog will-eat (anjing akan makan) いぬがたべたdog ate (anjing sudah makan)

Memang, ada beberapa pola berbeda untuk menempelkan huruf pada akhiran kata kerja yang berbeda-beda. Namun kabar terbaiknya adalah: polanya 100% sama persis dengan cara menempelkan huruf yang baru kita bahas.

Jadi, istilahnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Begitu kamu menguasai cara menempelkan , kamu otomatis sudah menguasai cara menempelkan ! Dengan menonton satu video te-form itu [5], kamu langsung lulus dan bisa menggunakan bentuk continuous (sedang dilakukan) dan bentuk lampau (sudah dilakukan) sekaligus.

Ada satu materi kecil lagi soal keterangan waktu (Ekspresi Waktu) yang sangat berguna untuk kita bahas sekarang.

Ekspresi Waktu (Time Expressions)

Jika kita berkata 私はケーキを食べる (Saya makan kue), dan kita ingin memperjelas bahwa itu adalah rencana besok, kita cukup menyelipkan kata 明日/あした (besok). Kalimatnya menjadi: あしたケーキを食べる. Semudah itu.

Kita cukup meletakkan kata penunjuk waktunya di depan sebelum mengucapkan sisa kalimatnya, sama persis seperti tata bahasa Inggris: Tomorrow I'm going to eat cakeあした *(zeroが)* ケーキを食べる.

INFO

Sebagai catatan: Terkadang saya tetap menuliskan huruf "が" di dalam transkrip meskipun Dolly tidak mengucapkannya secara lisan. INI KARENA Dolly tetap menampilkannya secara visual dalam layar videonya. Jadi, saya menambahkannya murni untuk mencocokkan dengan materi visualnya, bukan hasil karangan saya sendiri...

Nah, kata-kata seperti tomorrow (besok) ini masuk dalam kategori Ekspresi Waktu Relatif (Relative Time Expression). Kenapa disebut relatif? Karena waktu pelaksanaannya bergantung secara relatif dengan hari ini. (Hari ini adalah 'besok'-nya dari kemarin, bukan?).

Aturan untuk semua ekspresi waktu relatif (seperti kemarin, minggu lalu, tahun depan, dll) sangatlah gampang. Kamu cuma perlu menaruh ekspresi waktu tersebut di paling awal, dan secara otomatis seluruh kalimat di belakangnya akan terseret masuk ke dalam zona waktu tersebut.


Namun, aturannya akan sedikit berbeda kalau kita menggunakan Ekspresi Waktu Absolut (Absolute Time Expression). Waktu absolut adalah waktu yang sudah pasti dan tidak bergantung pada hari ini, contohnya seperti nama hari (Selasa) atau jam pasti (pukul enam). Nah, untuk waktu absolut, kita wajib menempelkan partikel (ni) pada keterangan waktunya.

Contoh: Hari selasa adalah 火曜日/かようび. Kalau kita ingin mengatakan On Tuesday (I) will eat cake (Pada hari selasa saya akan makan kue), maka kalimat Jepangnya menjadi かようびに *(zeroが)* ケーキをたべる.

Mungkin kamu mulai pusing dan membatin, "Aduh ribet amat, gimana cara bedain ini waktu yang absolut atau yang relatif di tengah-tengah obrolan?"

Tenang, kabar baiknya adalah: kamu nggak perlu pusing mikirin itu! Kenapa? Karena logika bahasa Jepang ini bekerja 100% sama persis dengan bahasa Inggris!

Coba perhatikan. Dalam bahasa Inggris, saat kita pakai waktu relatif, kita tidak pakai kata depan: Tomorrow I eat cake. Next week, I have an exam.

Tetapi, ketika kita menggunakan waktu absolut, kita selalu butuh kata depan: **On** Monday I will eat cake. **At** six o'clock I have an exam. Atau kalau bulannya spesifik: **In** July I'm going to Tokyo.

Nah, bahasa Jepang bekerja dengan logika yang IDENTIK. Bedanya, bahasa Jepang lebih sederhana. Kamu nggak perlu ribet ngafalin kapan harus pakai on, kapan pakai at, atau kapan pakai in. Dalam bahasa Jepang, pukul rata saja semuanya, gunakan partikel !

Jadi aturannya sesederhana ini: Kalau dalam bahasa Inggris kamu butuh menyelipkan kata on, in atau at pada keterangan waktu tersebut, maka dalam bahasa Jepang kamu wajib menggunakan partikel . Sebaliknya, kalau di bahasa Inggris waktunya berdiri sendiri (tanpa on/in/at), berarti di bahasa Jepang kamu tidak perlu memakai .

Jadi, mulai sekarang nggak perlu buang waktu memutar otak, Ini waktunya relatif apa absolut ya?. Cukup tanyakan pada dirimu: "Apakah kalimat bahasa Inggrisnya butuh on, in atau at?" Jika iya, pasang . Jika tidak, lupakan . Selesai.

Created by Kellen | Indonesian translation by DeepL