Skip to content

15. Kata Kerja Transitif dan Intransitif

Pelajaran 15: Transitivitas—3 hal yang memudahkan. Mengungkap rahasia kata kerja transitif dan intransitif

こんにちは。

Hari ini kita akan mengupas tuntas tentang satu kategori tata bahasa yang dinamakan: Kata kerja gerak diri (self-move) dan kata kerja gerak orang lain (other-move).

Jika kamu membuka buku teks bahasa Jepang standar atau kamus, kamu pasti akan menemukan konsep ini dibungkus menggunakan istilah linguistik Barat: kata kerja Transitif dan Intransitif. Mungkin kamu sudah menebak ke mana arah pembicaraan ini. Ya, ini persis seperti kasus-kasus sebelumnya tentang 'konjugasi' yang tidak ada di bahasa Jepang, atau 'bentuk pasif' murni yang juga tidak eksis. Istilah Transitif dan Intransitif ini sangat problematik untuk menjelaskan tata bahasa Jepang.

Memang benar, konsep transitivitas itu eksis di bahasa Jepang, dan ada banyak sekali irisan kesamaan (tumpang tindih) antara konsep Transitif Barat dengan konsep Gerak Diri / Gerak Orang Lain ala Jepang. Namun, konsepnya tidak selalu sejalan dan istilah Transitif tersebut gagal menangkap makna struktural sebenarnya dari pola pikir bahasa Jepang.

Jadi, jika kamu kebetulan sudah sangat familier dan nyaman dengan istilah Transitif dan Intransitif dari pelajaran bahasa Inggris, sah-sah saja menggunakannya untuk sekadar analogi dasar. Namun, jika kamu masih asing dengan istilah-istilah rumit itu, JANGAN PERNAH repot-repot mempelajarinya hanya demi bahasa Jepang. Karena pada akhirnya, istilah itu tidak benar-benar akurat.

INFO

Banyak kata kerja yang berstatus 'transitif' di bahasa Inggris, ternyata TIDAK berstatus transitif di tata bahasa Jepang. Jadi, untuk menghindari otakmu berasap, jauh lebih aman untuk menganggap bahwa sistem bahasa Jepang ini adalah entitas baru yang berdiri sendiri.


Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Kata kerja gerak diri (self-move) dan Kata kerja gerak orang lain (other-move)? Dalam bahasa Jepang, kata kerja itu disebut dengan 動詞 (doushi), yang secara harfiah berarti kata yang menunjukkan suatu tindakan atau gerakan/perpindahan.


Kata gerak diri (self-move) adalah kata kerja yang tindakannya murni HANYA menggerakkan pelakunya sendiri. Contoh, jika saya berdiri. Itu adalah tindakan gerak diri. Saya tidak memindahkan atau mengangkat benda lain, saya murni hanya menggerakkan tubuh saya sendiri.

Kata gerak orang lain (other-move) adalah tindakan yang subjeknya menggerakkan/mengenai objek lain. Contoh, jika saya melempar bola. Itu adalah tindakan gerak orang lain. Saya tidak melempar tubuh saya sendiri, yang saya lempar dan gerakkan adalah si bola. Logikanya sesederhana itu.


Sekarang masuk ke bagian serunya: Bahasa Jepang memiliki BUANYAK SEKALI pasangan kata kerja—dua wujud adaptasi dari akar kata yang sama—di mana salah satu wujudnya bertugas sebagai 'gerak diri', dan wujud satunya bertugas sebagai 'gerak orang lain'.

Salah satu contoh paling klasik adalah pasangan 出る(でる) dan 出す(だす).

Keduanya berbagi huruf kanji (出) yang sama, yang bermakna keluar. Wujud dasarnya adalah 出る (deru), yang secara harfiah berarti keluar / muncul. Dan inilah si versi 'Gerak Diri'. (Contoh: Matahari keluar). Wujud pasangannya adalah 出す (dasu), yang berarti mengeluarkan / memunculkan (menyebabkan sesuatu yang lain keluar). Dan inilah si versi 'Gerak Orang Lain'. (Contoh: Saya mengeluarkan dompet).

INFO

Peringatan: Jangan pernah menyamakan terjemahan "Menyebabkan sesuatu yang lain keluar" ini dengan Bentuk Kausatif (Causative Form - menyuruh/membuat orang lain melakukan sesuatu) yang akan dibahas di Pelajaran 19.
Kata 出す aslinya juga punya wujud kausatifnya sendiri, yaitu 出させる (dasaseru) / Menyuruh orang untuk mengeluarkan.
Di sini, 出す murni adalah tindakan fisikmu sendiri yang memindahkan suatu benda, bukan tindakan menyuruh orang lain.

Jadi, pada kasus 出る (Gerak diri), pelakunya bergerak sendiri; ia keluar; ia muncul secara independen. Pada kasus 出す (Gerak orang lain), pelakunya (Subjek / Engine kalimat) sedang mengeluarkan atau mengambil SESUATU YANG LAIN.

INFO

Sama persis seperti logika Transitif/Intransitif di sekolah:

  • Kata kerja 'gerak orang lain' (Transitif) selalu membutuhkan kehadiran Objek Gramatikal ().
  • Sedangkan kata kerja 'gerak diri' (Intransitif) TIDAK BISA dipasangkan dengan Objek langsung (), karena tindakan itu cuma mempengaruhi tubuh si subjek itu sendiri.

Sistem pasangan ini seringkali sangat menguntungkan. Daripada menghafal dua kosakata yang berbeda total, kita mendapatkan dua kata yang strukturnya mirip, maknanya berkaitan erat, dan gampang ditebak.


Contoh kasus lain: 負ける (makeru). Kata ini berarti kalah—ini bukan bermakna kehilangan barang atau uang, melainkan kalah dalam pertandingan, perang, atau permainan. (Kalah).

Lalu ada pasangannya, **負かす (makasu)**. Ini adalah versi 'gerak orang lain' dari **負ける**, yang berarti mengalahkan—dengan kata lain, membuat pihak lain menderita kekalahan. Jadi, jika dalam bahasa Inggris atau Indonesia kita harus menghafal dua kata yang berbeda total (Lose = kalah, dan Defeat = mengalahkan), dalam bahasa Jepang kita cuma butuh satu akar kata yang sama, lalu wujudnya sedikit diadaptasi menjadi 'gerak diri' dan 'gerak orang lain'.


Memiliki banyak kosakata pasangan seperti ini tentu sangat berguna—TETAPI, itu akan jadi bencana jika kamu tidak paham rumusnya. Jika kamu tidak tahu cara membaca mana yang versi gerak diri dan mana yang versi gerak orang lain, kamu akan selalu tertukar maknanya.

Jika kamu membuka buku teks standar, 90% dari mereka akan menyuruhmu untuk menghafalkan seluruh daftar pasangan kata kerja itu satu per satu dengan metode hafalan mati (sebagai daftar transitif/intransitif). Metode itu keliru dan tidak perlu.

Faktanya, sebagian besar waktu, kamu bisa menebak dengan insting akurat mana yang gerak diri dan mana yang gerak orang lain. Ada beberapa Hukum Emas sederhana yang menguasai mayoritas pasangan kata kerja ini. Dan hukum-hukum itu sangat gampang diingat jika kamu memahami filosofi di baliknya. Mari kita bedah.

Filosofi Akar: ある (Aru) & する (Suru)

Hal fundamental pertama yang wajib kamu ketahui adalah: di dunia bahasa Jepang, ada "Adam dan Hawa" yang melahirkan seluruh konsep kata kerja 'gerak diri' dan 'gerak orang lain'. Dua kata kerja pencipta itu adalah ある (Aru) dan する (Suru).

ある (Ada/Eksis) adalah "Ibu" kandung dari semua kata kerja 'Gerak Diri'. Artinya murni hanya Ada. Jadi, ini adalah jenis kata kerja yang orientasinya 100% menusuk ke dalam diri pelakunya. Kamu tidak bisa memaksakan keberadaanmu menjadi benda lain; kamu hanya bisa menjadi dan ada di dalam dirimu sendiri. Ini adalah fondasi mutlak dari konsep self-move.


する (Melakukan), di sisi lain, berarti bertindak (do).する (melakukan tindakan) tidak akan pernah bisa terjadi tanpa adanya objek. Kamu pasti sedang 'melakukan' suatu hal, sekecil apa pun itu. Oleh karena itu, する adalah "Bapak" moyang dari semua kata kerja 'Gerak Orang Lain' (yang aksinya memancar ke luar untuk mengenai objek lain).

Lalu, apa faedahnya mengetahui silsilah penciptaan ini? Sangat penting! Karena setelah kamu paham genetikanya, kamu telah memegang kunci utama untuk membongkar misteri pasangan kata kerja apa pun yang kamu temui. Bagaimana caranya? Saya membaginya ke dalam 3 Hukum Emas Pasangan Kata Gerak.

Aturan Emas 1: Keluarga "する" (Suru/Su)

Hukum emas pertama: Jika salah satu dari pasangan kata kerja tersebut memiliki akhiran -す (su), maka kata itu SUDAH PASTI dan MUTLAK adalah versi 'Gerak Orang Lain' (Transitif). Kenapa? Karena akhiran -す itu mewarisi DNA dari bapaknya, yaitu する (Melakukan suatu tindakan pada objek).

Mari kita cocokkan dengan contoh sebelumnya: 出る (deru) / 出す (dasu).

  • 出る (deru) berarti keluar (gerak diri).
  • 出す (dasu), karena ia memiliki akhiran -す, otomatis ia adalah si gerak orang lain—sehingga maknanya adalah mengeluarkan (benda lain).

Sama halnya dengan 負ける (makeru) / 負かす (makasu). Kita otomatis tahu bahwa versi yang bermakna 'mengalahkan (pihak lain)' adalah 負か**す** karena ia berakhiran -す.

Memang, banyak sekali pasangan -す yang mengikuti pola evolusi rapi (dari -える / eru berubah menjadi -す / su). Tapi tidak semuanya seindah itu.

Dalam beberapa kasus, ada adaptasi yang bentuknya sedikit berbeda. Contohnya: 落ちる (ochiru) yang berarti jatuh, dan 落とす (otosu) yang berarti menjatuhkan. Keduanya berbagi Kanji yang sama (落), mereka berpasangan, tetapi mereka tidak mengikuti pola evolusi rapi -える ke -す. Meskipun begitu, kamu tidak perlu peduli! Karena 落とす tetap memiliki ekor mutlak -す, jadi kamu otomatis tahu 100% bahwa itulah versi Gerak Orang Lain (menjatuhkan benda lain).

Aturan Emas 2: Keluarga "ある" (Aru)

Hukum emas kedua: Jika salah satu pasangan memiliki akhiran A-stem + (sehingga bunyinya berakhir dengan -ある / -aru), maka kata itu SUDAH PASTI adalah versi 'Gerak Diri' (Intransitif). Kenapa? Karena akhiran -ある jelas-jelas mewarisi DNA dari ibunya, yaitu ある (Ada/Eksis), sang ratu gerak diri.

Pola mayoritas dari mutasi genetik ini biasanya bergeser dari -える menjadi -ある. Kita sudah pernah melihatnya di pelajaran tadi:

  • 上がる (agaru) yang berarti naik ke atas / bangkit berdiri.
  • 上げる (ageru) yang berarti menaikkan (sesuatu) ke atas / mengangkat / memberikan ke atas.

Jika disuruh menebak, kita otomatis tahu bahwa yang berstatus sebagai gerak diri adalah 上がる, semata-mata karena ia memiliki ekor -ある. Pola wajar di sini memang bergeser dari -える ke -ある, tetapi sekali lagi, tidak semuanya seideal itu.

Ada kasus lain, seperti 包む (tsutsumu) yang berarti membungkus, dan 包まる (kurumaru) yang berarti terbungkus/membungkus diri. Wujudnya sedikit irregular, tetapi hal itu tidak menjadi masalah karena kita punya aturan emasnya: Kata yang berakhiran -ある (-maru) akan SELALU menjadi si 'Gerak Diri' dari pasangan tersebut.

Aturan Emas 3: Aturan Pertukaran Silang (-う ke -える)

Sekarang, masuk ke hukum ketiga. Jika kita mengambil kata kerja normal apa pun yang berakhiran -う (baris U) lalu mengubah ekornya ke baris dan menambahkan (menjadi akhiran -える / -eru), maka evolusi itu AKAN MEMBALIKKAN status transitivitasnya (dari gerak-diri menjadi gerak-orang-lain, ATAUPUN SEBALIKNYA).

Masalah utamanya adalah: kita tidak selalu bisa memprediksi arah pembalikannya cuma dari melihat strukturnya saja. Apakah kata aslinya yang gerak diri, atau kata aslinya yang gerak orang lain?

Namun, kenyataannya ini tidak semengerikan kedengarannya. Pertama, jumlah kosakata yang masuk ke hukum ketiga ini tidaklah banyak (mayoritas mutlak pasangan kata kerja sudah dibereskan oleh Aturan 1 dan Aturan 2). Kedua, dari sedikit kata kerja yang mengalami pertukaran -う menjadi -える ini, MAYORITAS DARI MEREKA adalah kelompok kata yang spesifik berubah dari -む (-mu) menjadi -める (-meru).

Dan tahukah kamu? Kelompok -める ini adalah 'Anggota Kehormatan' dari keluarga -す (Gerak orang lain). Atau kamu juga bisa menamainya sebagai Aturan Emas Keempat. Apapun sebutanmu, hukum alamnya mutlak: Dalam kasus perubahan dari -む menjadi -める, pihak yang berakhiran -める SELALU dan PASTI bertindak sebagai 'Gerak Orang Lain' (Transitif).

Bahkan faktanya, seiring jam terbangmu membaca bahasa Jepang makin tinggi, insting alamimu akan terbentuk dan kamu akan otomatis bisa merasakan bahwa setiap kata kerja yang berakhiran める selalu memancarkan aura 'Gerak orang lain' yang sama pekatnya dengan する.


Dan sejujurnya, ilmu di atas barusan adalah 95% materi yang paling kamu butuhkan jika kamu baru memulai perjalanan bahasa Jepang. Tiga Aturan Emas itu saja sudah lebih dari cukup untuk membantai mayoritas kosakata yang akan kamu temui.

Jadi, jangan merasa terbebani untuk menghafalkan sisa materi dari pelajaran ini. Kamu boleh berhenti membaca di sini dan kembali lagi kapan-kapan kalau sudah siap. Namun, saya akan tetap menuntaskan materinya sekarang. Tujuannya agar catatan ini bisa menjadi referensi lengkap untuk masa depanmu, dan juga agar kita bisa melihat filosofi 'gerak diri dan gerak orang lain' yang jauh lebih dalam.

Aturan Kehormatan Lanjutan

Fakta lanjutan yang wajib kamu tahu adalah: selain pergeseran -む / -める yang notabene adalah anak emas, masih ada beberapa "Anggota Kehormatan" tambahan yang diangkat menjadi keluarga besar -す (Gerak Orang Lain). Yaitu:

  • Pergeseran -ぶ (bu) menjadi -べる (beru) -> Versi -べる ini SELALU bertindak sebagai si 'Gerak Orang Lain'.(Sekadar trivia: bunyi -ぶ dan -む itu saudara kembar dalam sejarah bahasa Jepang. Coba lihat kosakata seperti さびしい dan さみしい (sabishii / samishii) yang sama-sama berarti kesepian. Kamu bisa menukar bunyi bu dan mu di kosakata kuno tanpa mengubah makna. Jadi sangat wajar jika -める dan -べる diangkat bersamaan sebagai anggota kehormatan klan -す).

  • Pergeseran -つ (tsu) menjadi -てる (teru) -> Versi -てる ini juga SELALU bertindak sebagai si 'Gerak Orang Lain'.

Nah, setelah membedah semua anggota kehormatan ini, sisa misteri dalam tumpukan kartu kita benar-benar cuma tinggal sedikit.

Satu-satunya tumpukan sisa di mana kita benar-benar buta dan TIDAK BISA menebak arah pembalikannya adalah:

  • Dari -く menjadi -ける
  • Dari -ぐ menjadi -げる
  • Dari -う menjadi -える
  • Serta beberapa kata kerja yang tidak mengikuti Aturan 1 (-su) maupun Aturan 2 (-aru).

Ya, hanya segelintir kaum minoritas inilah satu-satunya pengecualian di mana rumus struktural kita benar-benar lumpuh untuk menebak mana si Gerak Diri dan mana si Gerak Orang Lain.

Lalu, apakah ada cara lain untuk menebak nasib kaum minoritas ini? Jawabannya: YA. Namun ini sedikit membutuhkan jam terbang, dan akan jadi sangat gampang saat insting bahasamu sudah terbentuk (imersi). Ketika kita menemui kata kerja yang secara rumus fisik tidak bisa ditebak arahnya, kita biasanya bisa langsung menebaknya secara Semantik (berdasarkan logika Makna Kata).

Kunci berpikirnya adalah: Kombinasi ditambah (Eru) BERTUGAS UNTUK 'MEMUTAR BALIK' LOGIKA TRANSITIVITAS KATA ASALNYA.Versi -える adalah wujud mutasinya/pembalikannya; sedangkan versi -う (baris U) adalah wujud murninya.

Mari kita simulasikan dengan contoh. Kata 売る (uru) sangat sering digunakan dan berarti menjual.

Lalu ada wujud pasangannya yang lebih jarang ditemui, yaitu 売れる (ureru). Karena ia berakhiran -える, berarti ini adalah VERSI KEMBALIKANNYA (Mutasi).

Mari kita pakai logika. Tindakan Menjual (Uru) jelas-jelas merupakan aksi memindahkan objek lain. Saya menjual sesuatu (benda). Kamu tidak bisa melakukan aksi 'menjual' secara abstrak tanpa objek. Saat menjual barang, kamu secara harfiah sedang "menggerakkan/memindahkan kepemilikan benda lain itu".

Namun, versi mutasinya 売れる (ureru) memiliki makna terjual / laku, seperti dalam frasa "Game itu terjual layaknya kacang goreng (selling like hot cakes)". Dalam logika kalimat "Game itu terjual (laku keras)", sosok yang sedang melakukan tindakan 'laku/terjual' adalah si Game itu sendiri. Jadi, dalam kasus 売れる, tindakan itu tidak mengenai benda lain, melainkan berlaku pada dirinya sendiri (Gerak Diri).

Dari penalaran ini, sangat jelas bahwa wujud asli 売る (uru) adalah Gerak Orang Lain (Transitif), dan ketika wujudnya dibalik/dimutasi menjadi 売れる (ureru), ia berubah posisi menjadi Gerak Diri (Intransitif).


Sekarang mari kita lihat skenario yang arahnya berlawanan. Kata 従う (shitagau) berarti mematuhi atau mengikuti. Ia memiliki wujud mutasi 従える (shitagaeru), yang berarti dipatuhi oleh atau diikuti oleh / menundukkan.

Gunakan logikamu: Ide dasar paling purbanya (wujud aslinya) pastilah aksi 'mematuhi/mengikuti'. Lalu ide yang lebih advanced dan diperluas adalah 'sedang dipatuhi / sedang diikuti'.Jadi sudah sangat pasti bahwa ide mutasinya ('Gerak Orang Lain' / menundukkan orang lain) JATUH PADA wujud える (Shitagaeru). Karena itu adalah wujud mutasi dari konsep dasarnya (mengikuti).


Sebagai penutup, ada fenomena unik bagi kalian yang sedari tadi penasaran: "Kenapa Cure Dolly bilang istilah Transitif/Intransitif itu cacat untuk menjelaskan tata bahasa Jepang?"

Contoh kata Shitagau tadi adalah buktinya! Kamus Jepang-Inggris mana pun akan melabeli kata 従う (shitagau) sebagai versi INTRANSITIF (Tidak punya objek).

Namun coba pikirkan pakai otak kananmu: 従う berarti mematuhi/mengikuti. Apakah ini tindakan tanpa objek? TENTU SAJA BUKAN. Kamu tidak bisa tiba-tiba 'mematuhi' secara abstrak tanpa ada sosok yang dituju. Kamu wajib mematuhi seseorang atau mengikuti aturan tertentu. Jadi secara logika harfiah, kata ini sangat amat "Transitif" (butuh objek).

INFO

(Catatan Ekstra: Diskusi soal ini memang sangat dalam. Dolly sempat membeberkan pemikirannya di utas komentar ini dan ini. Bahkan ada juga sebuah artikel blog Jepang yang membahas kenapa beberapa kata 'Gerak Diri' yang seharusnya dilarang menyentuh objek () malah ternyata lazim memakainya secara tak lazim. Saya sarankan jadikan ini PR pribadimu kalau mau menyelam lebih dalam ke kasta linguistik).

Lalu kenapa kamus-kamus besar bersikeras melabelinya sebagai Intransitif? Karena mereka sudah telanjur terikat kontrak darah dengan tata bahasa Barat untuk selalu menyamakan konsep "Gerak Diri" (self-move) Jepang sebagai "Intransitif". Padahal, meskipun kenyataannya kata mematuhi itu butuh objek target, di mata orang Jepang tindakan itu murni merupakan sebuah 'Gerak Diri'.


Kenapa dianggap 'Gerak Diri'? Karena dalam proses mematuhi atau mengikuti seseorang, KAMU TIDAK MENGGERAKKAN ORANG LAIN TERSEBUT. Kamu murni HANYA menggerakkan tubuh dan keputusanmu sendiri.

Sebaliknya, dalam posisi 'dipatuhi' atau 'diikuti' (Shitagaeru), kamu tidak menggerakkan dirimu sendiri, melainkan daya tarikmulah yang menggerakkan tubuh orang lain. Inilah bukti paling nyata di mana hukum alam "Gerak Diri" dan "Gerak Orang Lain" ala Jepang saling bentrok dan tidak bisa disamakan 100% dengan hukum Transitif/Intransitif ala Barat.


Kasus-kasus bentrok semacam ini sebenarnya tidak terlalu sering muncul. Jadi sah-sah saja kalau kamu masih ngotot ingin memakai istilah Transitif/Intransitif. Tetaplah sadar bahwa filosofi kedua pasang istilah itu tidak selamanya identik, dan di beberapa persimpangan tertentu, mereka benar-benar bertabrakan.

Sebagai penutup, seperti yang saya katakan di awal, kamu akan bisa bertahan hidup sangat lama jika kamu hanya mengingat Tiga Aturan Emas ini. Sebagian besar masalah pasangan kata kerja akan lenyap begitu saja:

  1. Bentuk yang berakhiran -ある SELALU merupakan kata 'Gerak Diri' (Intransitif).
  2. Bentuk yang berakhiran -す (serta -せる) SELALU merupakan kata 'Gerak Orang Lain' (Transitif).
  3. Jika ada pertukaran -む ke -める, maka -める adalah anggota kehormatan dari 'Gerak Orang Lain' (Transitif).

Dengan mengantongi tiga jimat sederhana ini, kamu secara harfiah sudah menaklukkan lebih dari separuh masalah Transitivity di seluruh bahasa Jepang.

Created by Kellen | Indonesian translation by DeepL