Skip to content

17. Bahasa Jepang Sopan (Polite) dan Bentuk Volisional

Pelajaran 17: Bagaimana desu/masu MERUSAK Bahasa Jepang Anda! + Cara menggunakannya dengan benar. Ditambah bentuk volisional

こんにちは。

Hari ini kita akhirnya akan membedah bahasa Jepang yang sopan (polite language): です (desu) dan ます (masu).

INFO

(Catatan Editor: Di video aslinya, Dolly sering menggunakan istilah formal untuk merujuk pada です dan ます. Secara linguistik linguistik tingkat lanjut, pelabelan ini kurang akurat, karena ada perbedaan mendasar antara wujud Formal dan Polite dalam bahasa Jepang. Jika kamu mengecek kamus, kedua akhiran ini masuk ke dalam kategori bahasa sopan / 丁寧語 (Teineigo). Oleh karena itu, di catatan ini istilahnya telah kami ralat dan selaraskan menjadi wujud Sopan).

Beberapa dari kamu mungkin terheran-heran karena kita berhasil melewati 16 pelajaran berturut-turut tanpa menyentuh pasangan kata sakti ini sama sekali. Padahal, 99% tempat kursus dan buku teks di seluruh dunia pasti mencekoki muridnya dengan desu dan masu sejak hari pertama mereka masuk kelas.

Kami punya alasan yang sangat, sangat krusial mengapa kami menahan materi ini sampai detik ini. Alasan utamanya adalah: struktur mesin です dan ます itu sebenarnya lumayan unik dan nyeleneh. Kedua wujud ini seringkali menerobos dan mematahkan aturan-aturan logika dasar yang berlaku di bahasa Jepang murni (kasual).

Oleh karena itu, jika kamu membiarkan otakmu menelan struktur aneh ini sejak hari pertama sebagai "standar" bahasa Jepang, otakmu akan membangun fondasi logika yang bengkok mengenai cara mesin bahasa Jepang bekerja. Sejujurnya, kita memang bisa saja menyisipkan materi ini sedikit lebih awal, tapi prioritas utamanya adalah: kita wajib mengecor pondasi arsitektur bahasa Jepang murni sampai benar-benar kokoh di kepalamu, SEBELUM kita mulai membedah area abu-abu seperti です/ます ini.

Jika kamu sudah paham cara kerja mesin aslinya, memahami bentuk sopan ini tidak akan sulit. Jika belum, saya peringatkan: kembali dan tonton ulang pelajaran pertama sekarang juga. Baiklah, mari kita mulai.

Mengupas Tuntas "ます" (Masu)

Mari kita bedah si ます (masu). ます adalah sebuah KATA KERJA murni. Ia bukan sekadar akhiran kosong, ia adalah sebuah kata kerja utuh. Statusnya persis sama seperti deretan kata kerja bantu lain yang telah kita kuliti sejauh ini.

Kata kerja ます ini bertugas untuk menempel pada akar kata baris "い" (I-stem) yang sudah sangat kamu kenal. Dan yang paling penting: penempelan ます SAMA SEKALI TIDAK MENGUBAH MAKNA dari kata kerja yang ditumpanginya.

Tugas tunggal ます murni hanya menyuntikkan "nada sopan" pada kalimat tersebut. Jadi:

  • 歩く (aruku / berjalan - murni) -> diubah ke I-stem -> ditempel ます menjadi 歩きます (arukimasu / berjalan - sopan).
  • 話す (hanasu / berbicara - murni) -> I-stem -> 話します (hanashimasu / berbicara - sopan), dan seterusnya.

Kata-kata yang berakhiran ます itu sejatinya cumalah wujud kosmetik (versi sopan) untuk mengatakan hal yang sama.


Lalu, apa alasan teknis lain kenapa saya sengaja menyembunyikan kata ini dari awal? Ingatkah kamu saat saya (dan semua buku teks) mengatakan bahwa bahasa Jepang hanya memiliki dua kata kerja tidak beraturan (irregular), yaitu くる dan する? Kenyataannya, saya sedikit berbohong. Ada satu lagi makhluk irregular yang bersembunyi. Makhluk itu adalah ます.

Dan ketidakberaturan ます ini jauh lebih parah dan brutal ketimbang kelakuan くる dan する. Kata kerja ます melanggar hukum alam yang tidak pernah dilakukan oleh kata kerja mana pun di seluruh dunia bahasa Jepang modern.

Kabar baiknya: Untuk membawanya ke masa lalu (wujud lampau), perilakunya sepenuhnya normal dan patuh pada aturan. Karena ia berakhiran huruf -す (su), ia berubah wujud menjadi wujud masa lalu normal: ました (mashita).

Kabar buruknya: Wujud negatifnya. Menurut hukum alam yang kita pelajari, wujud negatif dari kata kerja yang berakhiran -す mutlak haruslah まさない (masanai), bukan? Salah. Bentuk negatif dari ます bukanlah まさない; melainkan ia berubah ekstrem menjadi ません (masen).

Misteri "ません" (Masen)

Dari mana datangnya alien bernama ません ini? Faktanya, struktur tata bahasa -せん (sen) ini sama sekali TIDAK EKSIS di bagian mana pun dalam arsitektur bahasa Jepang modern. (Ini adalah fosil tata bahasa Jepang kuno yang masih dipertahankan untuk bahasa sopan).

Buku teks mencoba mencuci otakmu dengan mengatakan bahwa "Masen adalah bentuk negatif dari kata kerja Sopan". Lalu mereka melanjutkan kebohongannya dengan mendefinisikan "Kata kerja (Verb) adalah semua kata yang memiliki akhiran masu". Terakhir, mereka menambah kebohongan bahwa kata ない (nai) adalah konjugasi negatif dari kata kerja (padahal kita sudah bedah tuntas di Pelajaran 7 bahwa ない murni adalah sebuah KATA SIFAT pembantu, bukan kata kerja!).

Kita tidak perlu buang-buang waktu meneliti sejarah linguistik ません. Karena benda aneh ini tidak akan pernah kamu temui polanya di tempat lain, satu-satunya cara adalah menghafalkannya sebagai sebuah takdir/fakta mati.Fakta: Bentuk negatif (untuk masa kini/depan) dari kata kerja ます adalah ません.

Nah, inilah bahayanya belajar ます di hari pertama kursus. Jika kamu diperkenalkan dengan anomali ません saat otakmu masih putih bersih, alam bawah sadarmu akan langsung menelan racun bahwa "tata bahasa Jepang itu penuh aturan acak dan pengecualian aneh layaknya bahasa Eropa". Padahal bahasa Jepang modern luar biasa logis dan matematis.

Wujud Alien "ませんでした" (Masen-deshita)

Dan seakan belum cukup parah, wujud lampau-negatif dari masu ini bertingkah lebih kacau lagi. Karena せん adalah fosil kuno, ia TIDAK PUNYA mekanisme konjugasi masa lalu bawaan (seperti halnya -ない yang bisa berevolusi logis menjadi -なかった).

Lalu apa solusi tambal sulam yang dilakukan orang Jepang? Mereka cuma mengambil wujud lampau dari kopula です (yaitu でした / deshita), lalu menabrakkannya secara paksa di belakang ません. Sehingga wujudnya menjadi Frankenstien: ませんでした (Masen-deshita).

Jadi: (zeroが) あるきませんでした berarti (Saya) tidak (jadi) berjalan.

Banyak orang Jepang native (terutama yang beraliran perfeksionis tata bahasa) yang SANGAT MEMBENCI wujud tambal sulam ini, dan wajar saja. Ini sangat berantakan secara linguistik. Namun sayangnya, entah baik atau buruk, evolusi bahasa masyarakat sudah mengukuhkan monster ini sebagai standar resmi bahasa Jepang sopan. Jadi, kita harus menerimanya.

Kabar baiknya, cacat logika ini jumlahnya sangat sedikit dan cuma terjadi di lingkaran wujud sopan. Hal ini tidak akan membuatmu gila, asalkan kamu tidak menelannya sebagai fondasi di awal masa belajarmu, yang bisa merusak logikamu tentang mesin bahasa Jepang yang sebenarnya.


Coba bayangkan bencana ini: jika kamu belajar ます dari buku teks dan mempercayai bahwa perubahan ini adalah ilmu konjugasi, lalu kamu dicekoki bahwa ます adalah wujud original dari sebuah kata kerja. Maka saat kamu ingin merakit wujud kata kerja lain, kamu harus repot-repot memenggal akhiran -masu, lalu membongkar akar I-stem-nya, dan menggantinya dengan entah apa untuk melakukan hal lain. Ini adalah pendekatan buta yang melahirkan puluhan aturan acak gaya Eropa yang wajib dihafal mati, dan akhirnya membuat bahasa Jepang terasa seperti neraka.

Mengupas Tuntas "です" (Desu)

Sekarang, mari kita beralih ke tersangka kedua: です (desu).

です, seperti yang mungkin sudah kamu curigai, MURNI hanyalah wujud sopan (polite) dari kopula (da). Fungsi mekanis です itu 100% IDENTIK dengan . Jadi, jika kamu sudah menguasai cara pakai , kamu otomatis sudah menamatkan です.

TETAPI, ia menyimpan satu keanehan mematikan. Jika kita mengambil sebuah kata sifat murni berakhiran "い", contohnya 赤い (akai / merah), kita dibolehkan menempelkan です secara paksa di ujung kata tersebut untuk membuatnya sopan.

Penempelan paksa ini SAMA SEKALI tidak berdampak pada fungsi tata bahasanya; ini murni hanyalah sekadar kosmetik (hiasan tempel) untuk merias kalimat agar terdengar elegan/sopan di telinga.

Sekali lagi, ini murni fakta hafalan kecil yang tidak terlalu memusingkan. TETAPI, bayangkan bahayanya jika kamu diajari hal ini di pelajaran pertama. Otakmu akan tertipu dan mengambil kesimpulan sesat bahwa kata sifat berakhiran "い" (seperti 赤い) MEMBUTUHKAN kopula です untuk bisa menjadi kalimat utuh, persis seperti Kata Benda / Kata Sifat-Na (seperti きれい / kirei) yang mutlak butuh kopula .

Dan kebingungan ini semakin diperparah dengan istilah buku teks yang menamai kata benda deskriptif sebagai Kata Sifat-Na (Na-adjectives)[6]. Otak pemula pasti langsung menyamaratakan keduanya dan menganggap "Oh, SEMUA kata sifat butuh kopula".

PADAHAL SALAH BESAR. Kata sifat sejati (Engine-い / berakhiran i) itu sudah menjadi mesin yang utuh. Ia BISA BERDIRI SENDIRI dan TIDAK BUTUH KOPULA SAMA SEKALI untuk menjadi kalimat. Penempelan です di ujung kata sifat-i hanyalah tempelan hiasan tak berguna demi etika kesopanan.

Sebaliknya, kelompok "Kata Sifat-Na" (Engine Benda) memang sejatinya adalah Kata Benda—sehingga mereka mutlak dan sah membutuhkan kopula untuk menjadi kalimat.

Mari bandingkan strukturnya:

  • あかい (akai) -> (sudah kalimat utuh) is red (berwarna merah).
  • 綺麗だ (kirei da) -> (butuh kopula) is pretty (cantik).
  • 赤いです (akai desu) -> (hiasan kosmetik) is red dengan nada sopan.
  • 綺麗です (kirei desu) -> (kopula sopan sejati) is pretty memakai wujud kopula sopan yang memang wajib dimilikinya.

Jadi seperti yang kamu saksikan, menguasai "Bahasa Jepang Sopan" itu sebenarnya sangat gampang dan remeh. Kita cuma perlu memaklumi beberapa kelakuan sinting dan cacat logikanya. Jika kamu sudah paham arsitektur mesin bahasa Jepang yang murni (seperti balok Lego), menempelkan wujud です atau ます di ujung kalimat tidak akan membebani pikiranmu sama sekali.

Satu lagi trik rahasia yang wajib kamu ketahui: Sebagai ganti dari monster ません (masen), kita BISA dan SANGAT LAZIM menggunakan wujud ないです (nai desu).

Jadi, jika kamu ingin bilang Sakura tidak berbicara dengan nada sopan, kamu boleh bilang さくらが話しません (Sakura ga hanashimasen). ATAU, kamu sangat diperbolehkan untuk bilang: さくらが話さないです (Sakura ga hanasanai desu).

Kenapa ini sah? Logikanya sangat indah dan presisi! Karena hukum kesopanan memperbolehkan kita menempelkan hiasan kosmetik です di belakang semua jenis 'Kata Sifat berakhiran-i', maka SANGAT MASUK AKAL jika kita juga boleh menempelkan です ke ujung ない (nai)! Karena secara genetika, kata bantu negatif ない murni bertindak sebagai sebuah KATA SIFAT berakhiran-i.

Fakta pamungkasnya: Kita sebenarnya tidak perlu banyak-banyak menyentuh atau memodifikasi kata kerja ます dari depan. Karena ます adalah mutlak raja penutup kalimat; ia cukup ditempelkan di urutan paling bontot dari deretan aksi kita murni untuk memberikan segel kesopanan pada kalimat tersebut.


Namun, ada satu pengecualian di mana です dan ます mau bekerja sama dan menari bersama "Kata Kerja Bantu Volisional" (Volitional helper verb).

Dan sekali lagi, ます bertingkah layaknya alien. Jika kita ingin mengubah sebuah kata ke wujud volisional, rumus aslinya adalah mengubah akar kata menjadi baris "お" (O-stem). Jadi secara rumus, wujud volisional dari ます seolah-olah harusnya berbunyi まそ (maso), bukan? SALAH. Wujud volisional mutlak dari ます adalah ましょう (Mashou).

Untungnya, anomali ini cukup familier di telinga sehingga gampang dihafal. Dan lebih untungnya lagi, si kopula です (desu) mematuhi alur ini dan membentuk wujud volisional yang berima sangat serasi dengan temannya, yaitu menjadi: でしょう (Deshou).

Nah, berhubung kita sudah menyenggol istilah wujud Volisional, mari kita bedah tuntas sekalian bentuk tersebut!

Bentuk Volisional (Kehendak / Hasrat)

Mekanisme perakitan wujud ini luar biasa gampang, dan inilah salah satu dari sedikit operasi perakitan yang menggunakan Akar Kata baris "お" (O-stem).

Kata pembantu (partikel) untuk wujud volisional di kelompok Godan ini mirip dengan kata bantu potensial. Jika wujud potensial cuma butuh satu huruf mungil (ru), wujud Volisional murni cuma butuh satu huruf (u).Kita cukup menempelkan di ekor Akar "お" (O-stem), dan akibat penempelan itu, pelafalan vokal "O"-nya menjadi panjang. Jadi:

  • 話す (hanasu / berbicara) -> O-stem + u -> 話そう (hanasou / dibaca: hanasō).
  • 歩く (aruku / berjalan) -> 歩こう (arukou / dibaca: arukō), dan seterusnya.

Lalu, apa makna dari wujud ini? Namanya sendiri (Volitional / Kehendak) sudah membeberkan maknanya. Wujud ini berfungsi untuk 'mengekspresikan' atau 'memanggil' kehendak / kemauan keras dari sang subjek.

Penggunaan paling umum di kehidupan nyata adalah untuk menyelaraskan kehendak sekelompok orang (Mengajak). Jadi jika kita berseru, 行きましょう (Ikimashou) (seperti yang kita bedah tadi, 'mashou' adalah wujud volisional sopan dari 'masu'), maka terjemahan harfiahnya adalah: **Let's** go (Mari kita pergi / Ayo pergi).

Namun awas, banyak buku tata bahasa yang juga melabeli kata sifat pembantu keinginan (-たい / -tai) ke dalam kategori volisional. Ini SANGAT MEMBINGUNGKAN, karena Keinginan (Desire) dan Kehendak (Will) adalah dua mekanisme psikologis yang berbeda langit dan bumi!


Camkan ini di pikiranmu:

  • -たい (-tai) murni mengekspresikan Kondisi Ingin / Hasrat Batin (Aku lagi pengen melakukan sesuatu).
  • Bentuk Volisional murni mengekspresikan Kehendak / Tekad / Ajakan (Mari kita lakukan ini / Aku akan melakukan ini).

Hasrat dan Kehendak BUKANLAH hal yang sama. Mari pakai analogi: Kamu mungkin memiliki 'Kehendak' (tekad) yang bulat untuk bangun pagi dan mengerjakan PR matematika-mu. TAPI, itu SAMA SEKALI BUKAN BERARTI kamu 'Menginginkan' (merasa hasrat/suka) untuk mengerjakan PR tersebut. Yang sebenarnya bergejolak dalam hasratmu (-tai) adalah bermain game semalaman suntuk; tetapi kamu mengumpulkan dan memaksa kehendak/tekadmu (volisional) untuk tetap mengerjakan PR.

Oleh karena itu, saat kita menggunakan seruan volisional seperti 行こう (Let's go / Ayo berangkat!), wujud ini memang sangat pas dipakai untuk hal-hal yang menyiratkan ajakan asyik seperti Ayo kita piknik! atau Ayo kita pesta!. TETAPI wujud ini juga mutlak dipakai untuk hal-hal yang tidak menyenangkan seperti Ayo beres-beres kamar! atau Ayo kerjakan PR kita!. Wujud ini mengekspresikan KEHENDAK BERSAMA, bukan hasrat batin.


Kamu akan sangat sering melihat papan peringatan di Jepang yang memuat pesan seperti: ゴミを持ち帰りましょう (Gomi o mochikaerimashou) – **Mari** pungut sampah kita dan bawa pulang. Bagi saya, ini selalu terdengar seperti ajakan kolektif yang sangat sopan dan beradab. Sangat kontras dengan budaya papan peringatan di negara-negara Barat atau Indonesia yang biasanya bernada ancaman keras: "Buang sampah sembarangan akan didenda 50 juta!". Budaya kehendak bersama ini sangat mengakar di Jepang.


Sekadar tambahan, wujud volisional ini bisa dirangkai dengan partikel lanjutan seperti -か (ka) dan -と (to) untuk memunculkan makna yang berbeda. Tapi saya tidak akan membahas daftar panjang hafalan tersebut di sini, karena menghafal daftar panjang adalah metode belajar yang sangat buruk. Kita akan membedahnya secara alami saat struktur tersebut muncul nanti (mungkin di bab cerita Alice).

Namun, ada satu kombinasi wujud volisional yang WAJIB kamu hafal sekarang juga karena ini akan muncul di mana-mana di kehidupan nyata. Yaitu: Ketika kita menyulap kopula ( atau です) menjadi wujud volisionalnya.

  • Wujud volisional dari (da) adalah だろう (darou).
  • Wujud volisional dari です (desu) adalah でしょう (deshou).

Jika kamu menempelkan だろう/でしょう di ekor sebuah kalimat pernyataan, maknanya akan SAKTI BERUBAH menjadi Mungkin / Sepertinya / Tebakanku... (Probably / I guess).

INFO

(Catatan teknis Editor: Kamu mungkin akan menemukan beberapa kamus atau forum yang menyatakan bahwa wujud volisional "だろう" itu sebenarnya diturunkan dari wujud sastra kuno "である" (de aru), dan bukan diturunkan murni dari "だ" (da). Apapun asal-usul evolusinya, fungsinya di bahasa modern tetap sama).

Perhatikan juga betapa sempurnanya nuansa keraguan/spekulasi/tebakan yang dilahirkan oleh だろう / でしょう saat mereka hinggap di ekor sebuah kalimat.

Mari kita simulasikan:

  • それは赤いでしょう / だろう -> Benda itu **mungkin** berwarna merah / **Sepertinya** itu merah.
  • さくらがくるでしょう / だろう -> **Tebakanku** Sakura akan datang / Sakura **kayaknya** bakalan datang.

INFO

(Fakta tambahan): Meskipun だろう dilahirkan sebagai wujud volisional dari kopula (yang tugasnya menempel pada benda), wujud だろう ini terbukti kebal hukum dan SAH ditempelkan secara langsung pada ujung Kata Sifat-い dan Kata Kerja, di mana kopula murni haram melakukannya. Kenapa bisa kebal? Kemungkinan besar karena fungsinya telah bermutasi menjadi partikel penanda "Tebakan/Spekulasi", dan bukan lagi berfungsi sebagai kopula pengikat "adalah/identitas benda".

Di obrolan jalanan/anime, bentuk ini sering disingkat lagi menjadi だろ (daro) atau でしょ (desho). Bentuk だろ biasanya memberikan kesan sangat maskulin/kasar.

Selesai! Sekarang otakmu sudah resmi mengantongi cara menembus labirin bahasa Jepang Formal (Polite) tanpa tertipu oleh hukumnya yang cacat, serta kamu sudah menguasai cara mengendalikan kemauan kuat lewat Wujud Volisional!

Created by Kellen | Indonesian translation by DeepL