7. Bentuk Negatif dan Kata Sifat dalam Bentuk Lampau
Pelajaran 7: Rahasia kata kerja negatif dan kata sifat dalam bahasa Jepang conjugations
Hari ini kita akan membahas tentang bentuk negatif. Dan untuk memahaminya, kita harus menyingkap salah satu rahasia paling fundamental dalam bahasa Jepang—sebuah rahasia yang hampir tidak pernah diajarkan di sekolah maupun di buku-buku teks. Memahami konsep ini akan membuat seluruh proses belajarmu menjadi jauh lebih mudah. Namun sebelum kita masuk ke sana, mari kita lihat dasar-dasar bentuk negatif dalam bahasa Jepang.
Kata Sifat ない (Nai)
Dasar fundamental dari setiap kalimat negatif adalah keberadaan kata sifat ない. Kata sifat ini berarti non-exist (tidak ada) atau not-be (bukan).

Kata yang menunjukkan keberadaan (exist) untuk benda mati—langit, laut, alam semesta, sebutir beras, bunga, pohon, apa pun itu—adalah ある (aru). Jadi, jika kita ingin mengatakan, There is a pen / A pen exists (Ada pulpen), kita menggunakan ペンがある. Tetapi jika kita ingin mengatakan pulpen itu tidak ada, kita menggunakan ペンがない.

Sekarang, pertanyaannya: mengapa kita menggunakan kata kerja untuk "ada" (ある), tetapi malah menggunakan kata sifat untuk "tidak ada" (ない)? Karena logika ini berlaku di seluruh penjuru tata bahasa Jepang. Setiap kali kita MELAKUKAN sesuatu, sebuah tindakan sedang berlangsung, maka kita menggunakan kata kerja. Entah itu berjalan, bernyanyi, berlari, atau apa pun—itu semua adalah kata kerja.
Tetapi jika kita TIDAK melakukannya, maka kita menempelkan ない pada kata kerja tersebut, dan ない itulah yang mengambil alih kemudi menjadi inti kalimat. Jadi, ketika kita mengatakan bahwa kita tidak melakukan sesuatu, secara tata bahasa kita sedang tidak menggunakan kata kerja, melainkan kata sifat.
Kenapa bisa begitu? Karena bahasa Jepang itu sangatlah logis. Saat kita melakukan sesuatu, ada aksi yang terjadi, maka pakailah kata kerja. Namun, saat kita tidak melakukannya, tidak ada aksi apa pun yang sedang berlangsung. Kita murni hanya sedang menggambarkan suatu "keadaan" tanpa tindakan. Oleh karena itu, kita menggunakan kata sifat.
Jadi, jika kita ingin mengatakan There is no pen (Tidak ada pulpen), kita bilang ペンがない. Tapi bagaimana jika kita ingin mengatakan, This is not a pen (Ini BUKAN pulpen)? Itu konteks yang sedikit berbeda, bukan? Jadi, bagaimana cara merakitnya?
Jika kita ingin mengatakan This is a pen, seperti yang sudah kita pelajari, kita merakitnya menjadi: これは (zeroが) ペンだ. Makna logisnya: As for this, pen = / As for this, it's a pen.

INFO
Dalam video aslinya, Dolly sedikit melakukan kesalahan visual dengan menampilkan gerbong hitam が menempel pada ペンだ.
Saya telah memperbaikinya dengan skill MS Paint tingkat dewa saya (•̀o•́)ง... intinya, ikuti logika gambar di bawah ini.

Nah, jika kita mau bilang This is not a pen, kita mengubah kalimatnya menjadi: これは *(zeroが)* ペンではない.

Apa makna struktural dari kalimat itu? Partikel で sebenarnya adalah bentuk -て dari kopula だ (atau です). Jadi kita masih menggunakan fondasi これはペンだ, tetapi kita menyulapnya menjadi bentuk-te これはペンで, lalu kita menempelkan ない di belakangnya. Sehingga makna logis yang sedang kita ucapkan adalah, As for this, as for being a pen, it isn't / This is not a pen (Adapun mengenai hal ini, sebagai sebuah pulpen, nyatanya bukan).
Bentuk Negatif Kata Kerja
Sekarang mari kita masuk ke hidangan utamanya, yaitu kata kerja. Untuk mengubah sebuah kata kerja menjadi bentuk negatif, kita wajib menempelkan ない, dan kita melakukannya dengan menempelkan kata tersebut pada akar kata baris "あ" (A-stem).

Apa maksudnya sistem "akar kata" (stem) ini? Dengarkan baik-baik. Sistem akar kata kerja bahasa Jepang adalah sistem transformasi (perubahan bentuk) kata kerja yang paling sederhana, paling logis, dan paling indah di dunia. Sistem ini nyaris 100% teratur. Begitu kamu menguasainya, kamu bisa membuat perubahan bentuk apa pun (kecuali bentuk -て dan -た yang memiliki aturannya sendiri, seperti yang sudah kamu pelajari).
Sayangnya, sekolah dan buku pelajaran tidak pernah mengajarkan rahasia ini kepadamu. Alih-alih membongkar akar logikanya, mereka memecah materi ini menjadi apa yang mereka sebut conjugation (konjugasi)... mereka menyajikan setiap perubahan sebagai kasus terpisah dengan aturan acak yang harus dihafal mati. Karena mereka tidak pernah menunjukkan pola aslinya, ditambah kebiasaan buruk mengajar menggunakan huruf Romawi (Romaji) padahal ini murni urusan huruf Kana, wajar jika murid merasa bahasa Jepang itu susah.
Para siswa dicuci otaknya untuk berpikir bahwa mereka harus menghafal puluhan aturan berbeda untuk setiap bentuk kata kerja. Padahal, kamu sama sekali tidak perlu melakukan itu. Kamu hanya perlu memahami sistem akar kata (stem).
Mari kita bedah. Seperti yang sudah kita ketahui, kata kerja dasar selalu berakhiran dengan salah satu huruf Kana dari baris う (U). Saya sengaja memutar tabel Kana di bawah ini ke samping agar kamu bisa melihat visualisasinya. Jadi, huruf-huruf di dalam kotak merah inilah yang berhak menjadi akhiran sebuah kata kerja. Tidak semua huruf di baris う, tapi sebagian besar dari mereka. Contohnya: かう (membeli), きく (mendengar), はなす (berbicara), もつ (memegang), dll.
Seperti yang kamu lihat, ada empat baris huruf lain yang membentang di bawahnya. Kelima baris inilah yang disebut sebagai Akar Kata Kerja (Verb Stems).

Hari ini, kita hanya akan fokus pada akar kata baris "あ" (A-stem), karena baris inilah yang kita butuhkan untuk menciptakan bentuk negatif.
Untuk membentuk A-stem, kita cukup menggeser huruf terakhir dari kata kerja tersebut (yang awalnya di baris う) naik ke baris あ. Jadi:
きく(mendengar) digeser menjadiきかはなす(berbicara) digeser menjadiはなさもつ(memegang) digeser menjadiもた... dan seterusnya.

Hanya ada SATU pengecualian dalam sistem ini—dan saat saya bilang satu, maksud saya ini satu-satunya pengecualian di seluruh sistem akar kata apa pun—yaitu: Jika sebuah kata kerja berakhiran dengan huruf う (u) itu sendiri, akarnya TIDAK bergeser naik menjadi -あ (a), melainkan bergeser jauh menjadi わ (wa).
Jadi, bentuk negatif dari かう (membeli) BUKANLAH かあない, melainkan かわない. Pengecualian ini cuma berlaku saat kamu bermain-main di area A-stem. Logikanya sederhana: menyebut かあない (kaanai) itu tidak luwes dan tabrakan di mulut, jauh lebih enak dan mengalir mengucapkan かわない (kawanai), bukan?
Selain satu pengecualian kecil itu, semuanya sangat amat teratur.
きく(mendengar) + ない =きかない(tidak mendengar)はなす(berbicara) + ない =はなさない(tidak berbicara)もつ(memegang) + ない =もたない(tidak memegang), dan seterusnya.
Lalu bagaimana dengan kelompok kata kerja Ichidan? Sesuai janji kita, mereka selalu paling gampang: cukup buang akhiran -る dan tempelkan elemen barunya. Jadi, たべる (makan) langsung menjadi たべない (tidak makan). Selesai. Begitulah cara kita menyulap kata kerja menjadi negatif. Sangat, sangat gampang!
Bentuk Negatif Kata Sifat
Lalu, bagaimana dengan kata sifat (Kereta-い)? Bagaimana cara membuat kata sifat menjadi negatif? Aturannya mutlak: Setiap kali kita memodifikasi kata sifat, kita selalu mengubah akhiran -い di belakangnya menjadi -く (ku):
あかい(merah) menjadiあかくかわいい(lucu) menjadiかわいくこわい(menakutkan) menjadiこわく.

Masih ingat pelajaran sebelumnya? Inilah cara kita membentuk wujud -て dari kata sifat: あかく tinggal ditambah て menjadi あかくて.

Dan ini jugalah cara kita membentuk wujud negatifnya. Alih-alih ditambah て, kita tambahkan ない. あかい menjadi あかくない (tidak merah).

Menariknya, perubahan menjadi -く ini adalah kebalikan dari aturan bentuk -て, kan? Jika sebuah kata berakhiran -く, saat diubah ke wujud -て kita mengganti -く menjadi -い (contoh: aruku -> aruite). Tetapi pada kata sifat, justru -い yang kita ganti menjadi -く.
INFO
Dolly membuat sedikit typo ketikan di dalam video aslinya dengan menulis かわいく sebagai あわいく. Saya telah memperbaikinya di teks ini.
Kata Sifat dalam Bentuk Lampau
Jika kita ingin menyulap kata sifat menjadi bentuk masa lalu (past tense), kita buang akhiran -い dan menggantinya dengan -かった (katta). Jadi こわい (is-scary) berubah menjadi こわかった (was-scary / dulu menakutkan).
Nah, karena ない juga sejatinya adalah kata sifat yang berakhiran -い, maka ketika ia ditarik ke masa lalu, ia juga mematuhi aturan ini dan berubah menjadi なかった (nakatta).
Mari kita gabungkan semuanya:
- Jika kita ingin bilang
Sakura runs->さくらがはしる - Jika kita ingin bilang
Sakura doesn't run->さくらがはしらない - Jika kita ingin bilang
Sakura ran (in the past)->さくらがはしった(karena ia adalah kata kerja godan)*;
*Catatan: Perhatikan munculnya
っkecil sebelumたalih-alihたbiasa. Ini terjadi karena kata tersebut tunduk pada hukum kelompok Godan 1 (UTSURU) di Pelajaran 5.
- Dan jika kita ingin bilang
Sakura didn't run (in the past)->さくらがはしらなかった. Kita ambil wujud negatifnyaはしらない, lalu kita tendangない-nya ke masa lalu menjadiはしらなかった.

Sekarang, seperti yang kita semua tahu. Menggunakan さくらがはしる (Sakura will-run/runs) itu rasanya agak kaku dan tidak wajar untuk mendeskripsikan kejadian saat ini. Dalam bahasa Inggris kita biasanya memakai Sakura is running, dan dalam bahasa Jepang kita menggunakan engine pembantu いる menjadi さくらがはしっている.
Jadi, kalau kita ingin membawa kalimat continuous itu ke masa lalu, apa yang harus kita lakukan? Gampang, kita cukup menarik si engine いる ke masa lalu.
さくらがはしっていた – Sakura was running (Sakura dulu sedang berlari).

Dan jika kita ingin bilang Sakura wasn't running, kita tinggal bilang さくらがはしっていなかった. Kata いる adalah kata kerja Ichidan biasa. Jadi kita cukup mencopot akhiran -る dan menempelkan た (untuk masa lalu positif), atau ない (untuk negatif), dan terakhir なかった (karena ない di masa lalu menjadi nakatta).

Saya selalu mengibaratkan tata bahasa Jepang itu seperti mainan balok Lego. Begitu kamu paham wujud dari tiap-tiap blok pembangun dasarnya, kamu bisa merakit bangunan serumit apa pun. Dan yang terpenting, nyaris tidak ada pengecualian yang bikin sakit kepala dalam bahasa Jepang.
Pengecualian
Dari puluhan materi yang sudah kita bongkar hari ini, hanya ada DUA pengecualian. Dan saya akan memperkenalkannya sekarang supaya tidak ada lagi rahasia yang terlewat.
Pengecualian pertama: Satu-satunya anomali mutlak dalam dunia kata kerja (yang tidak bisa diubah menjadi negatif pakai ない) adalah kata bantu ます (masu)—sebuah kata yang berfungsi mengubah kalimat menjadi bentuk sopan/formal. (Catatan: Kita menempelkan ます pada akar kata baris "い" (I-stem), kita akan membahas ini di pelajaran selanjutnya, tapi saya yakin kamu pasti sudah bisa menebak polanya).
Contoh, はなす digeser ke I-stem menjadi はなします, きく menjadi ききます, dan seterusnya. Nah, ketika kamu ingin mengubah ます ke dalam wujud negatif, ia TIDAK berubah menjadi まさない seperti yang diinstruksikan oleh rumus dasar kita. Bentuk negatifnya berubah jauh menjadi ません (masen).

Kenapa? Karena ini adalah ranah bahasa sopan. Ia sedikit lebih kuno dan kaku, dan wujud せん ini sebenarnya adalah bentuk bahasa Jepang kuno yang digunakan untuk menggantikan ない.
INFO
Dolly kembali melakukan sedikit typo pada visual video di menit ini, dan saya telah turun tangan memperbaikinya lagi agar tidak membingungkanmu.

Pengecualian kedua (dan yang terakhir): Kata sifat いい / 良い (ii) yang berarti is-good (Bagus/Baik). Kata ini sebenarnya memiliki wujud yang lebih kuno yaitu よい / 良い (yoi), yang uniknya masih sangat sering digunakan sampai hari ini.
Aturan mutlaknya: Setiap kali kita akan melakukan transformasi (perubahan bentuk) apa pun pada いい, ia akan berevolusi kembali ke wujud asalnya yaitu よい. Jadi saat kita membawanya ke masa lalu, kita TIDAK boleh mengatakan いかった (ikatta), kita wajib mengucapkan よかった (yokatta)—kalau kamu sering menonton anime, telingamu pasti sudah tidak asing lagi dengan kata ini.

よかった, secara struktur logis adalah (zeroが)よかった – (It) was good / That turned out well / That's great (Syukurlah / Itu bagus). Begitu pula jika kamu ingin membuat wujud negatifnya. Kamu TIDAK bilang いくない (ikunai), kamu wajib bilang よくない (yokunai).
Dan selesai! Itu saja pengecualian yang harus kamu ingat seumur hidup.