Skip to content

19. Kalimat Kausatif + Kausatif-Reseptif

Pelajaran 19: Kausatif + causative passive: hal yang TIDAK PERNAH mereka ceritakan kepada Anda! Ini logis dan sangat mudah

こんにちは。

Hari ini kita akan mengupas tuntas tentang kata kerja bantu Kausatif (Causative). Dalam buku tata bahasa standar, wujud ini memang sudah dilabeli sebagai causative, dan jujur saja itu adalah nama yang sangat pas. Kenapa? Karena kata bantu ini memang menunjukkan bahwa sang subjek "menyebabkan" (membuat/menyuruh/membiarkan) orang lain melakukan kata kerja yang ditumpanginya.

Di kurikulum buku teks standar, materi Kausatif ini hampir selalu diajarkan berbarengan dengan bentuk Reseptif (yang mereka ngotot sebut sebagai Passive). Dan tahukah kamu? Sebenarnya ada alasan logis luar biasa di balik penggabungan kedua materi ini, meskipun buku teks biasanya gagal menjelaskan alasannya kepadamu. Jadi, saya akan membongkarnya sebentar lagi.

Tapi pertama-tama, mari kita bedah anatomi dari kata kerja bantu Kausatif ini.

Secara wujud fisik, kata kerja bantu Kausatif ini posisinya sama persis dengan si Reseptif: ia ditempelkan di ujung A-stem (Akar kata "あ") dari sebuah kata kerja. Jika kata kerja bantu reseptif berwujud れる / られる (reru/rareru), maka kata kerja bantu kausatif berwujud せる / させる (seru/saseru).

Jika telingamu merasa bahwa pelafalan kedua wujud ini (reru/saseru) terdengar memiliki pola yang mirip, instingmu tidak salah. Mari kita ingat kembali materi "Hawa dan Adam" dari seluruh kata kerja Jepang: yaitu ある (Aru / Ada) dan する (Suru / Melakukan).

  • ある adalah 'ibu' dari semua kata kerja Gerak Diri (Intransitif).
  • する adalah 'bapak' dari semua kata kerja Gerak Orang Lain (Transitif).

Nah, kata kerja reseptif れる / られる (menerima) itu berkaitan sangat erat secara genetika dengan sang ibu, ある. Sedangkan kata kerja kausatif せる / させる (menyebabkan) berkaitan sangat erat dengan sang bapak, する.

Meskipun secara teknis linguistik kita tidak bisa menyimpulkan bahwa yang satu adalah versi Gerak Diri dari yang lainnya, kita bisa melihat dengan jelas bahwa konsep filosofis kedua kata bantu ini saling berkebalikan dan melengkapi layaknya Yin dan Yang.


れる / られる menunjukkan 'Penerimaan' dari sebuah tindakan (Subjek adalah pihak yang kena/menerima).せる / させる bermakna 'Menyebabkan' sebuah tindakan terjadi / dilakukan oleh orang lain (Subjek adalah sang dalang/penyebab).

Perbedaan arah panah inilah yang menjadi kunci utama, sekaligus membongkar satu RAHASIA terbesar dari kedua pasang kata bantu ini—rahasia yang tidak pernah diungkapkan oleh buku teks, padahal sangat mutlak untuk dipahami. Mengapa buku teks tidak mengungkapkannya? Karena buku teks sejak awal sudah melakukan dosa besar dengan melabeli kata kerja bantu Kausatif dan Reseptif sebagai conjugation (konjugasi).

Mencapnya sebagai konjugasi sama saja dengan menghancurkan dan mengaburkan struktur logis dari cara mesin ini bekerja. Secara definisi tata bahasa, sesuatu yang berwujud "konjugasi" (seperti -ed atau -ing di bahasa Inggris) dianggap sebagai SATU buah kata kerja utuh.TETAPI, di dalam bahasa Jepang, penggabungan "Kata Kerja Utama + Kata Bantu Reseptif/Kausatif" TIDAK PERNAH menghasilkan satu kata kerja tunggal. Mereka mutlak adalah DUA kata kerja yang menjahit dua kejadian.

Lebih ekstremnya lagi, karena mereka adalah dua kata kerja, mereka akan SELALU MENGANDUNG DUA SUBJEK PENGGERAK yang terpisah.

Mari kita buktikan. Dalam kalimat Reseptif seperti **水が**犬に飲まれた**Air itu** **MENDAPATKAN (terkena)** tindakan diminum oleh anjing – di dalam kalimat tersebut terdapat dua kata kerja, dua jenis tindakan, dan DUA PENGGERAK yang mengeksekusi masing-masing tindakan.

Kata kerja utama (sang Engine utama penutup kalimat) adalah れる/れたGet / Mendapat – dan aktor yang mengeksekusi kata "Mendapatkan" itu adalah si AIR. Air tersebut sedang berada dalam status 'mendapatkan' tindakan diminum oleh si anjing. Lalu, kata kerja sekundernya (kata kerja di depan) adalah minum (飲ま), dan aktor yang mengeksekusi "minum" jelas adalah si anjing.

Fakta dua aktor ini semakin gamblang jika kita melihat kalimat yang lebih panjang: **さくらが**だれかにかばんをぬすまれた**Sakura** **MENDAPATKAN** nasib tasnya dicuri oleh seseorang.

Sekali lagi, ada dua rantai tindakan yang terjadi. Dalam kalimat reseptif, tindakan utamanya (engine penutup kalimat) SELALU berbunyi れる / Menerima: Jadi Sakura-lah yang Menerima.


Sedangkan di dalam bingkai tersebut, terdapat tindakan sekunder yang bersarang di dalamnya, yaitu aksi ぬすむ (mencuri). Dan aksi mencuri itu secara logis jelas dieksekusi oleh seseorang (dareka).

Nah, tahukah kamu? Hukum Dua Aktor ini terjadi SAMA PERSIS di dalam kalimat Kausatif. Kita selalu memiliki DUA penggerak (actors) yang mengeksekusi dua kata kerja yang berbeda.

Jadi, jika kita merakit: *(zero-ga)* 犬を食べさせた (Inu o tabesaseta). Kalimat ini berarti **(SAYA) menyebabkan** si anjing makan. Coba hitung, ada dua rantai tindakan yang sedang berlangsung di sana.

Tindakan pertama adalah aksi makan (tabe), yang jelas pelakunya adalah si anjing. Lalu tindakan utama (Engine pamungkas penutup kalimat) adalah aksi menyebabkan/menyuruh (saseta), dan aktor yang melakukan tindakan "menyuruh" itu mutlak adalah SAYA.

Jadi kamu bisa melihat sendiri buktinya, bukan? Menyebut wujud Reseptif maupun Kausatif sebagai sekadar sebuah "Konjugasi" adalah kesesatan. Di dalam kedua struktur kalimat tersebut, ada dua mesin kata kerja yang terpisah. Meskipun mereka secara tulisan digabungkan menjadi satu kata, mereka tetap menjalankan dua operasi yang beda, dan merujuk pada dua aktor penggerak yang berbeda.

Sekarang, mari kita curahkan waktu untuk benar-benar memahami makna asali dari せる / させる (Seru/Saseru).

Kita sering diajari di buku teks Inggris bahwa Kausatif ini bisa diartikan sebagai Make (Memaksa/Membuat seseorang melakukan sesuatu) ATAU Allow (Mengizinkan/Membiarkan seseorang melakukan sesuatu). Dan itu memang tidak salah: kata bantu ini secara fungsional BISA memiliki salah satu dari dua makna ekstrem tersebut.

TETAPI, hal krusial yang wajib kamu pahami adalah: di dunia nyata, wujud ini JUGA SERING TIDAK BERMAKNA KEDUANYA (tidak murni memaksa, dan tidak murni mengizinkan).Itulah sebabnya cara teraman untuk menerjemahkannya adalah menggunakan frasa yang terdengar sangat kaku: Menyebabkan / Memfasilitasi (Cause) seseorang untuk melakukan sesuatu.

Kenapa kita pakai frasa kaku tersebut? Karena niat kita bisa bermacam-macam: kita mungkin bermaksud memaksa mereka dengan keras, kita mungkin bermaksud memberikan izin dengan santai, tetapi kita JUGA BISA bermaksud menciptakan situasi yang tidak terwakili oleh kedua terjemahan tadi.

Contohnya? Ya, kembali lagi ke kalimat anjing tadi: *(zero-ga)* 犬を食べさせた (Saya menyebabkan si anjing makan).

Kalimat ini sama sekali tidak berarti Saya memaksa (menyiksa) anjing itu untuk menelan makanannya, bukan? Tapi kalimat itu juga tidak murni berarti Saya memberikan izin/merestui anjing itu untuk makan (seolah-olah anjing itu minta restu secara verbal). Itu juga bukan berarti saya sengaja membuka ikatan rantainya agar ia bisa mencuri makanan di meja.

Bukan itu maksudnya. Arti aslinya adalah: saya MENGKONDISIKAN agar ia bisa makan. Saya menuangkan makanan ke mangkuknya; saya menyiapkan sarana yang membuat dia bisa makan.


Kesimpulannya: せる / させる secara universal berarti Menyebabkan seseorang/sesuatu melakukan tindakan—tidak peduli apakah metode "menyebabkan" itu menggunakan paksaan fisik, pemberian izin secara lisan, ataupun sekadar memfasilitasi kondisinya.


Satu-satunya medan ranjau yang sering bikin murid putus asa soal wujud Kausatif ini adalah: Partikel penandanya. Terkadang, 'orang/hewan' yang kita suruh untuk melakukan sesuatu itu ditandai dengan partikel (O), tapi di lain waktu malah ditandai dengan partikel (Ni).

Saya sudah berjanji kepada kalian sejak awal bahwa partikel di bahasa Jepang TIDAK PERNAH mengubah-ubah fungsinya secara acak seperti yang diindoktrinasi oleh buku teks (seperti kebohongan bahwa 'kopi' di kalimat Coffee ga suki da tiba-tiba berubah fungsi menjadi objek, padahal ia adalah subjek). Jika kamu tidak tahu rahasia yang saya maksud, wajib hukumnya bagi kamu untuk menonton ulang Pelajaran 9 tentang Subjek Kalimat[9].

Lalu pertanyaannya, bagaimana mungkin ada DUA pilihan partikel logis ( dan ) yang bisa dipakai secara bergantian untuk menandai objek yang kita suruh tersebut?

Jawabannya murni terletak pada PERSEPSI PIKIRAN kita terhadap benda/orang yang kita suruh (せる/させる) tersebut. Kita bisa memilih untuk memandang sosok tersebut murni sebagai OBJEK SASARAN LEMPARAN () atau sebagai TITIK TUJUAN ARAH ().

Logika ini akan terasa jauh lebih jernih jika kita menjadikan manusia sebagai targetnya. Jika kita menandai orang tersebut dengan (Objek), kita secara psikologis MENELANJANGI kehendak bebas orang tersebut. Kita merendahkannya dan memperlakukannya secara harfiah sebagai "seonggok objek penderita" yang mutlak dikendalikan. Pola ini biasanya SANGAT TEPAT digunakan ketika nuansa kalimatnya adalah PAKSAAN KERAS (Orang itu tidak punya pilihan selain menuruti kemauan kita).

Sebaliknya, jika kita menandainya dengan (Titik Sasaran Ujung), implikasi psikologisnya lebih 'timbal-balik'. Kita memperlakukannya dengan lebih hormat (sebagai sesama manusia/rekan), sehingga pola ini jauh lebih wajar dipakai ketika nuansa kalimatnya adalah MENGIZINKAN / MEMFASILITASI.

(Saya sudah pernah membuat satu video khusus yang mengupas tuntas tentang tingkat 'hierarki kehormatan' antara partikel , , dan saat berurusan dengan penyebutan manusia. Kamu wajib menontonnya nanti.)

TETAPI, ada catatannya. Pilihan penggunaan dan ini BUKANLAH satu-satunya indikator mutlak untuk membedakan antara "Mengizinkan" atau "Memaksa" dalam kalimat Kausatif. Mengapa tidak mutlak?

Ada dua alasan. Alasan pertama, seperti yang sudah kita bahas panjang lebar tadi: spektrum makna Kausatif せる / させる itu tidak sehitam-putih Memaksa vs Mengizinkan. Spektrumnya sangat abu-abu, mengalir, dan bertahap di antara kedua titik ekstrem tersebut. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia/Inggris yang presisi untuk mewakilinya.


Alasan kedua (dan ini adalah Aturan Gramatikal Mutlak): Bagaimana jika TINDAKAN (Kata Kerja) yang kita paksakan itu memiliki objek-nya sendiri yang sudah memegang ?

Misalnya kalimat: *(zero-ga)* 犬に**肉を**食べさせた (Inu ni niku o tabesaseta). Arti literalnya: (SAYA) menyebabkan si anjing memakan **Daging**.

Kamu bisa melihat bahwa ada kalimat bawahan yang bersembunyi (tersirat) di dalam kerangka kausatif tersebut, yaitu: 犬が**肉を**食べた (Anjing itu memakan daging). Dalam aksi "memakan", si Daging adalah "Objek yang dimakan". Sedangkan si anjing adalah "Entitas yang saya suruh/saya paksakan untuk melakukan aksi memakan itu."

Nah, di dalam struktur kalimat semacam ini, hukum alam tata bahasa Jepang MENGHARAMKAN KITA UNTUK MENGGUNAKAN DUA BUAH PARTIKEL DALAM SATU KLAUSA YANG SAMA.

Karena partikel SUDAH DITEMPELKAN pada si 'daging' (karena daging adalah objek mutlak dari kata kerja 'makan' milik si anjing), maka kita TIDAK BOLEH lagi memakai untuk menandai si anjing (yang notabene adalah target dari aksi "menyuruh" kita).

Kenapa bahasa Jepang bikin aturan larangan "O Ganda" ini? Sebagian alasannya memang untuk keindahan gaya bahasa. Tetapi alasan utamanya adalah strategi kepraktisan. Jika ada dua berjejer, kalimatnya tidak cuma terdengar sumbang, tapi pendengar akan kebingungan (ambigu). Pendengar akan pusing menebak: "Tunggu, yang mana yang berfungsi sebagai objek sasaran dari kata kerja 'makan', dan yang mana yang berfungsi sebagai target dari paksaan せる/させる (sang penyebab)?"

Fakta saklek yang bisa kamu pegang adalah: Di dalam sebuah kalimat Kausatif (せる/させる) yang kebetulan memiliki objek langsung di dalam tindakannya, maka si OBJEK LANGSUNG itulah yang akan memonopoli partikel .Akibatnya, sang TARGET SURUHAN/SASARAN (yaitu sosok yang dipaksa, diizinkan, atau difasilitasi untuk melakukan tindakan itu) akan terdesak dan WAJIB ditandai dengan .

Nah, dari seluruh materi tentang Kausatif, logika partikel inilah yang menurut saya sedikit paling menantang. Tapi sebenarnya tidak sesulit itu untuk dihafal, bukan?

Sekarang, kita sampai ke puncaknya. Jika kamu sudah paham materi ini, hal yang selama ini dianggap sebagai kengerian paling ekstrem oleh siswa bahasa Jepang di seluruh dunia—yaitu kalimat kombinasi Kausatif-Reseptif (yang di buku teks disebut Causative Passive dan selalu sukses bikin murid drop out)—akan terasa seperti mainan anak kecil.

Kausatif-Reseptif / Causative-Passive

Sejujurnya, begitu otakmu sukses mencerna wujud dan filosofi kerja antara Kausatif dan Reseptif yang baru saja kita bongkar, penggabungan kedua mesin ini (Kausatif-Reseptif) sama sekali tidak punya trik aneh.

Kita tahu mutlak bahwa 'Kata kerja bantu' (helper verbs) sejatinya adalah KATA KERJA murni. Mereka menempel di ekor kata kerja lain, tetapi status mereka tetaplah kata kerja yang merdeka. Jika kamu tidak memegang prinsip ini, pemahamanmu pasti akan hancur lebur.

Satu hal lagi: Semua kata kerja bantu struktural utama, termasuk Kausatif, Potensial, dan Reseptif, SECARA GENETIKA BERWUJUD KATA KERJA ICHIDAN (Karena berakhiran -eru / -iru). Jadi, jika kita ingin memodifikasi atau menggabungkan mereka, kita cukup mengeksekusi operasi standar khas Ichidan: Copot akhiran -る (ru)-nya, lalu tempelkan elemen baru apa pun yang kita inginkan!

Jadi, jika kita ingin menempelkan kata kerja Reseptif (menerima) di belakang kata kerja Kausatif (menyuruh), kita murni HANYA PERLU mencopot akhiran -る dari ekor Kausatif (せる / させる), LALU MENEMPELKAN られる (karena られる adalah wujud mutlak penyambung Reseptif untuk kelompok Ichidan).

Dan BAM! Selesai. Sesederhana itu. Tidak ada kerumitan ajaib sama sekali.

TETAPI, seseorang mungkin akan ngotot protes, "Tunggu dulu Cure Dolly! Berarti sekarang kita punya TIGA kata kerja yang berjejer dalam satu kalimat, dong?"

Jawaban saya: TEPAT SEKALI! Kita punya TIGA buah kata kerja independen di dalam kalimat Kausatif-Reseptif.

Mari kita bongkar contoh mautnya: 私はブロコリを食べさせられた (Watashi wa burokori o tabesaserareta) – Saya **telah menerima nasib disuruh** makan brokoli.

Mari kita hitung tiga kata kerjanya:

  1. 食べる (Taberu) – aksi makan.
  2. させる (Saseru) – aksi memaksa/menyuruh.
  3. られる (Rareru) – aksi menerima (Dalam wujud lampau られた). Jadi makna literal aslinya adalah: Saya MENGALAMI/MENERIMA (Rareru) tindakan DISURUH/DIPAKSA (Saseru) untuk MAKAN (Tabe) brokoli.

Lalu, logikanya, kalau ada Tiga mesin kata kerja, apakah itu berarti kita punya Tiga subjek (aktor) yang berbeda? TIDAK. Dalam kasus kombo ini, kita "CUMA" PUNYA DUA SUBJEK.

INFO

(Catatan Editor: Di video aslinya, teks merah yang bertuliskan Secondary action: verb memiliki kesalahan ketik yang berbunyi さらる. Itu adalah murni typo yang tidak ada artinya di kamus Jepang manapun. Di catatan gambar ini sudah saya perbaiki menjadi させる (saseru)).

Lalu, apakah otak kita bakal meledak untuk mencari tahu siapa pemegang masing-masing subjek itu? Tidak! Tidak sama sekali! Aturannya sangat gamblang: Sosok/orang yang 'Menerima Nasib/Dikorbankan' (Subjek Utama) ITU SELALU IDENTIK dengan sosok/orang yang mengeksekusi aksi paling depan (Makan).

Dalam frasa Saya mengalami nasib disuruh makan...SAYAlah sosok korban yang menerima nasib diperintah tersebut. Oleh karena itu, SAYA jugalah jongos yang pada akhirnya harus mengunyah makanan itu, bukan?


Jadi, hukum arsitekturnya: Kata kerja PERTAMA di dalam rangkaian (Aksi Fisik/Makan), SELALU dieksekusi oleh orang yang SAMA dengan pemegang kata kerja PALING AKHIR (Aksi Menerima).

Lalu siapa yang mengeksekusi kata kerja Kausatif (Memaksa/Menyuruh)? Aksi paksaan itu SELALU dilakukan oleh ORANG LAIN (Si Dalang).


Kesimpulan anatomi Kausatif-Reseptif: Kita memiliki tiga pilar kata kerja.DUA di antaranya (Pilar paling depan dan paling belakang) dieksekusi oleh SI KORBAN yang menerima paksaan sekaligus yang melakukan tindakan fisik. Dan pilar kata kerja di tengah (Si Menyuruh) dieksekusi secara eksklusif oleh SI DALANG (Orang lain) yang merancang paksaan tersebut.

INFO

Seperti biasa, materi kombinasi ekstrem ini seringkali bikin kepala ngebul di awal. Sangat disarankan untuk mampir dan menggali ilmu di kolom Komentar Video Aslinya.

Created by Kellen | Indonesian translation by DeepL